Area apron Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru merupakan zona dengan intensitas operasional tinggi akibat interaksi personel, Ground Support Equipment, dan pesawat udara, sehingga rentan terhadap hazard yang mengancam keselamatan penerbangan, sementara penanganannya belum sepenuhnya didukung integrasi antara temuan lapangan dan sistem pelaporan resmi bandara. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hazard, menilai tingkat risiko, dan merumuskan strategi mitigasi. Pendekatan kualitatif deskriptif dipilih karena bertujuan menggambarkan kondisi hazard secara mendalam dan kontekstual, didukung matriks SKEP 223/X/2009 sebagai alat bantu kuantifikasi risiko, melalui observasi lapangan, wawancara dua narasumber, dan studi dokumentasi data sekunder. Hasil penelitian mengidentifikasi tujuh temuan hazard: pelanggaran APD, penataan GSE tidak tertib, tumpahan minyak, pergerakan penumpang tanpa pengawasan, tong sampah terbuka, speeding, dan distraksi ponsel. Pergerakan penumpang tanpa pengawasan memperoleh indeks risiko tertinggi dan berada pada zona tidak dapat diterima, sementara enam temuan lain memerlukan keputusan manajemen. Triangulasi data sekunder mengungkap hanya satu temuan yang terdokumentasi resmi, mengindikasikan kesenjangan pelaporan hazard perilaku. Disimpulkan bahwa mitigasi rekayasa fisik lebih efektif menurunkan risiko dibanding mitigasi administratif. Penelitian selanjutnya disarankan mengevaluasi efektivitas mitigasi digital secara empiris.
Copyrights © 2026