Penelitian ini menganalisis representasi identitas Papua dalam film Kaka Boss (2024) karya Arie Kriting dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes yang mencakup makna denotatif, konotatif, dan mitos. Selama ini, representasi masyarakat Papua dalam media massa dan film Indonesia cenderung didominasi stereotip negatif yang mengaitkan Papua dengan kekerasan, keterbelakangan, dan marginalisasi. Film Kaka Boss hadir sebagai upaya dekonstruksi dengan menampilkan tokoh Papua dalam konteks kehidupan urban yang lebih kompleks dan humanis. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui dokumentasi dan observasi terhadap empat scene terpilih yang merepresentasikan identitas sosial, stigma profesi, framing media, dan penerimaan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat denotatif, film menampilkan kehidupan sehari-hari tokoh Papua dalam keluarga, pekerjaan, dan interaksi sosial. Pada tingkat konotatif, terlihat pengalaman marginalisasi, stigma, serta negosiasi identitas. Pada tingkat mitos, film ini tidak hanya mereproduksi mitos kekerasan dan premanisme, tetapi juga menghadirkan mitos tandingan melalui sosok Kaka Boss sebagai ayah yang penyayang, pekerja keras, dan bertanggung jawab. Berdasarkan teori representasi Stuart Hall dan teori identitas sosial Tajfel, disimpulkan bahwa film ini menghadirkan representasi yang lebih inklusif, beragam, dan humanis terhadap identitas Papua dalam sinema Indonesia.
Copyrights © 2026