Intangible cultural heritage plays a crucial role in strengthening local identity and serves as a strategic resource for community-based tourism development. In Aceh Jaya, the Seumeuleung Raja ritual, which has been preserved since the 15th century, holds deep symbolic and spiritual meaning while functioning as a social consolidation event that brings together local communities, traditional leaders, and government officials. Despite attracting thousands of visitors annually, its economic benefits remain sporadic and have not yet formed a sustainable tourism ecosystem. This study adopts a qualitative descriptive approach to explore how the co-creation of cultural values and tourism experiences within the Seumeuleung Raja ritual can enhance local community welfare. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, document analysis, and focus group discussions involving customary institutions, local government, and community representatives. The findings reveal that co-creation occurs through four interrelated processes: co-planning, co-production, co-experience, and co-reflection. These processes foster meaningful interactions between stakeholders, resulting in authentic cultural experiences while maintaining the ritual’s spiritual essence. Moreover, co-creation contributes significantly to social cohesion, economic circulation through seasonal markets and local enterprises, and environmental awareness, thereby supporting multiple dimensions of sustainable development. By applying a co-creation framework to a traditional Acehnese context, this study extends the cultural tourism literature and offers practical insights for inclusive, community-based tourism strategies. Ultimately, the Seumeuleung Raja ritual exemplifies how cultural heritage can be transformed into a sustainable tourism ecosystem that strengthens identity, generates economic opportunities, and empowers local communitiesWarisan budaya takbenda memainkan peran penting dalam memperkuat identitas lokal dan berfungsi sebagai sumber daya strategis bagi pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Di Aceh Jaya, upacara Seumeuleung Raja, yang telah dilestarikan sejak abad ke-15, memiliki makna simbolis dan spiritual yang mendalam sekaligus berfungsi sebagai ajang pemersatu sosial yang mempertemukan masyarakat setempat, para pemimpin adat, dan pejabat pemerintah. Meskipun menarik ribuan pengunjung setiap tahun, manfaat ekonominya masih sporadis dan belum membentuk ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Studi ini mengadopsi pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengeksplorasi bagaimana penciptaan bersama nilai-nilai budaya dan pengalaman pariwisata dalam ritual Seumeuleung Raja dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, analisis dokumen, dan diskusi kelompok terfokus yang melibatkan lembaga adat, pemerintah daerah, dan perwakilan masyarakat. Temuan menunjukkan bahwa kolaborasi terjadi melalui empat proses yang saling terkait: perencanaan bersama, produksi bersama, pengalaman bersama, dan refleksi bersama. Proses-proses ini memfasilitasi interaksi yang bermakna di antara pemangku kepentingan, menghasilkan pengalaman budaya yang autentik sambil mempertahankan esensi spiritual upacara. Selain itu, kolaborasi berkontribusi signifikan terhadap kohesi sosial, sirkulasi ekonomi melalui pasar musiman dan usaha lokal, serta kesadaran lingkungan, sehingga mendukung berbagai dimensi keberlanjutan. Dengan menerapkan kerangka kerja kolaborasi dalam konteks tradisional Aceh, penelitian ini memperkaya literatur pariwisata budaya dan memberikan wawasan praktis bagi strategi pariwisata inklusif berbasis masyarakat. Pada akhirnya, upacara Seumeuleung Raja menjadi contoh bagaimana warisan budaya dapat diubah menjadi ekosistem pariwisata berkelanjutan yang memperkuat identitas, menciptakan peluang ekonomi, dan memberdayakan masyarakat setempat.
Copyrights © 2026