Vocational high school teachers are required to carry out a long chain of repetitive tasks: developing syllabi and lesson plans, creating teaching materials and visual media, composing test items and rubrics, analyzing assessment results, and completing classroom administration. This workload consumes time that should be devoted to direct interaction with students, while teachers' use of Artificial Intelligence (AI) remains partial and is not yet integrated as a single workflow. This study evaluates the effectiveness of an AI-integration training for teachers at SMK PGRI 2 in Palembang city, designed to cover lesson planning, material and media development, item writing, and assessment analysis through teacher administration. The one-day training was held on February 21st, 2026 and attended by 24 of 48 active teachers (50%). The evaluation was descriptive, examining participants' baseline condGuru SMK dituntut menjalankan rangkaian pekerjaan yang panjang dan berulang, menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), mengembangkan materi ajar serta media visual, menyusun soal dan rubrik penilaian, menganalisis hasil asesmen, hingga menyelesaikan administrasi kelas. Beban ini menyita waktu yang seharusnya dialokasikan untuk interaksi langsung dengan peserta didik, sementara pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) oleh guru SMK masih bersifat parsial dan belum terintegrasi sebagai satu alur kerja (workflow) yang utuh. Kegiatan pengabdian ini menyelenggarakan pelatihan integrasi AI bagi guru SMK PGRI 2 Palembang yang bertujuan meningkatkan pemberdayaan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran melalui pemanfaatan aplikasi berbasis kecerdasan buatan, mencakup perencanaan pembelajaran, pengembangan materi dan media, penyusunan soal dan tugas, hingga analisis hasil asesmen dan administrasi guru. Pelatihan dilaksanakan dalam satu hari pada 21 Februari 2026 dan diikuti oleh 24 dari 48 guru aktif (50%). Pemantauan pelaksanaan dilakukan secara deskriptif terhadap kondisi awal peserta, capaian produk, dan pola keterlibatan selama kegiatan. Sebelum pelatihan, peserta terbiasa menggunakan aplikasi perkantoran standar Microsoft namun belum optimal, memanfaatkan Canva sebatas penyuntingan gambar promosi, dan belum mengenal teknik prompting AI, khususnya untuk penyusunan RPP dan materi pembelajaran. Setelah pelatihan, seluruh peserta (100%) berhasil menyusun draf RPP sesuai mata pelajaran yang diampu, dan 18 dari 24 peserta (75%) aktif mengajukan pertanyaan terkait teknik prompting, mengindikasikan keterlibatan dan minat belajar yang tinggi sekaligus kebutuhan penguatan lanjutan. Pendampingan pasca kegiatan disediakan melalui grup WhatsApp untuk mendukung penerapan mandiri. Kegiatan ini menegaskan bahwa pelatihan AI yang dirancang sebagai satu alur kerja utuh, disertai mekanisme pendampingan pasca kegiatan, mampu meningkatkan pemberdayaan awal guru SMK dalam memanfaatkan AI meskipun dilaksanakan dalam waktu yang terbatasition, product outcomes, and engagement patterns. Before the training, participants were familiar with standard Microsoft applications but had not used them optimally, used Canva only for editing promotional images, and were not yet acquainted with AI prompting techniques, particularly for lesson-plan and material development. After the training, all participants (100%) successfully produced a draft lesson plan for their respective subjects, and 18 of 24 participants (75%) actively asked questions about prompting techniques, indicating high engagement as well as a need for further reinforcement. Continued mentoring was provided through a WhatsApp group to support independent application. These findings confirm that AI training designed as one coherent workflow, accompanied by post-training mentoring, effectively drives initial AI adoption among SMK teachers even within a limited time frame.
Copyrights © 2026