ABSTRAKTransportasi darat merupakan prasarana utama dalam menunjang mobilitas masyarakat serta distribusi barang dan jasa. Salah satu elemen penting dalam konstruksi jalan adalah oprit jembatan, yang berfungsi sebagai penghubung antara jalan utama dengan badan jembatan. Oprit Jembatan Tutu Panyang Samalanga menunjukkan kerusakan berupa retakan pada lapisan permukaan yang berpotensi mengurangi kenyamanan, keselamatan, serta umur rencana jalan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis volume lalu lintas, menghitung beban lalu lintas ekuivalen dengan metode AASHTO 1993, menentukan tebal lapisan perkerasan, serta membandingkan hasilnya dengan desain konsultan. Data primer diperoleh dari survei LHR (Lalu Lintas Harian Rata-Rata) selama tiga hari (Senin, Selasa, Jumat), sedangkan data sekunder berupa hasil uji CBR (California Bearing Ratio), data curah hujan, dan gambar teknis. Perhitungan melibatkan konversi lalu lintas ke dalam ESAL (Equivalent Single Axle Load), perhitungan modulus resilien, penentuan reliabilitas, deviasi standar, indeks pelayanan, serta nilai Structural Number (SN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total ESAL selama umur rencana 20 tahun adalah 627.537,42. Nilai CBR tanah dasar sebesar 3,37% lebih rendah dari syarat minimum (6%), sehingga diperlukan timbunan pilihan setebal 35 cm. Berdasarkan metode AASHTO 1993, diperoleh struktur perkerasan: lapisan permukaan 11 cm, pondasi atas 15 cm, pondasi bawah 22 cm, dan timbunan pilihan 35 cm. Dibandingkan desain konsultan, terdapat perbedaan tebal pada lapisan permukaan (+1 cm) dan timbunan pilihan (+5 cm). Desain hasil penelitian lebih sesuai dengan kondisi lapangan serta diharapkan mampu meningkatkan ketahanan struktur, umur rencana, dan kenyamanan pengguna jalan.Kata kunci: oprit jembatan, perkerasan lentur, AASHTO 1993, beban lalu lintas, tebal perkerasan.
Copyrights © 2026