Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual
Vol 4, No 2 (2026): Divinitas July

Hermenetuika Lintas Textual: Perbandingan Tradisi Perkabungan Yahudi dan Tongkon di Toraja dalam Terang Pengkotbah 7:2

Cornelius Satrio Tonapa (Universitas Sanata Dharma)



Article Info

Publish Date
04 Jul 2026

Abstract

The Jewish community greatly respects death, as indicated by the words of Ecclesiastes in chapter 7:2: “It is better to go to a house of mourning than to go to a house of feasting, for death is the destiny of everyone; the living should take this to heart”. In practice, the Jewish tradition of mourning or avelut (אֲבֵלוּת) lasts for a long period of time and involves various stages of mourning. The Torajans do the same thing through the tongkon tradition in the Rambu Solo' ceremony. Because they so respect the death of family members, the Toraja people carry out tongkon in the form of Rambu Solo' for a long period of time. The qualitative method with a Cross-Textual Hermeneutics and comparative approach used in this study attempts to find a theological bridge that can bring these two mourning traditions into dialogue. The results of the study show that, in addition to differences, there are similarities in Jewish mourning and tongkon, which transform and enrich both traditions. Both traditions are forms of social support for bereaved families. Theologically, both are forms of respect for the Creator as the holder of human life.AbstrakMasyarakat Yahudi sangat menghormati kematian seseorang yang ditunjukkan kata-kata Pengkotabah dalam pasal 7:2:  Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya”. Dalam praktiknya, tradisi perkabungan Yahudi atau avelut (אֲבֵלוּת) berlangsung dalam kurun waktu yang lama dan berbagai tahapan perkabungan. Hal yang sama dilakukan oleh masyarakat Toraja lewat tradisi tongkon dalam upacara Rambu Solo’. Karena begitu menghoramati kematian keluarga, orang Toraja melangsungkan tongkon dalam bentuk Rambu Solo’ dalam kurun waktu yang lama. Metode kualitatif dengan pendekatan Hermenutika Lintas Tekstual dan komparasi yang digunakan dalam penelitian ini mencoba menemukan jembatan teologis yang bisa mendialogkan kedua tradisi perkabungan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain perbedaan terdapat persamaan dalam perkabungan Yahudi dan tongkon sehingga kedua ini tersebut yang memberikan transformasi dan memperkaya kedua tradisi ini. Kedua tradisi sama-sama merupakan bentuk dukungan sosial kepada keluarga yang berduka. Secara teologis, keduanya merupakan bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta sebagai pemegang kehidupan manusia. 

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

Divinitas

Publisher

Subject

Religion Humanities Economics, Econometrics & Finance Education Other

Description

Divinitas: Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual develops contextual Philosophical and Theological discourses in dialogue with sociological, anthropological, comparative religion, religious studies, historical, cultural and psychological perspectives and takes the diversity of Asian societies and ...