Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model sambung pucuk yang memiliki tingkat keberhasilan tertinggi terhadap pertumbuhan bibit durian. Penelitian dilaksanakan di Desa Tandung, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara pada bulan Februari hingga April 2026 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan yaitu S1 (sambung celah), S2 (sambung sisip), S3 (sambung miring), dan S4 (sambung baji), masing-masing diulang tiga kali. Parameter yang diamati meliputi jumlah tunas, kecepatan pertumbuhan tunas, jumlah daun, lebar daun, dan panjang tunas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan model sambung pucuk berbeda nyata terhadap lebar daun pada umur 68 HSP dan panjang tunas pada seluruh periode pengamatan (47-68 HSP). Perlakuan S3 (sambung miring) menghasilkan panjang tunas tertinggi (5,00 cm) dan lebar daun terbaik (4,20 cm), sedangkan S4 (sambung baji) menunjukkan hasil terendah. Berdasarkan hasil penelitian, model sambung miring dan sambung sisip memberikan pertumbuhan terbaik dan disarankan bagi petani serta pengusaha bibit durian untuk menggunakan teknik tersebut karena memberikan hasil pertumbuhan vegetatif yang lebih baik.
Copyrights © 2026