Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Respon Pertumbuhan dan Kemampuan Serapan Nikel Tanaman Jagung (Zea mays L.) dan Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) yang Ditanam pada Lahan Sekitar Area Tambang : Growth Response and Nickel Absorption Ability of Corn (Zea mays L.) and Soybeans (Glycine max (L.) Merr.) Planted on Land Around the Mining Area Naima Haruna; Rosnina Rosnina; Rahmi Azizah Mudaffar; Ratna Rahim; Sitti Maryam Yasin
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/90b0zv17

Abstract

Penambangan nikel seringkali meninggalkan lahan terdegradasi dengan kandungan logam berat, termasuk nikel (Ni), yang dapat bersifat toksik bagi tanaman. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk percobaan di Nursery PT.Vale selama enam bulan (Desember 2023 sampai Mei 2024) Tujuan penelitian untuk menganalisis respon pertumbuhan serta kemampuan serapan nikel pada tanaman jagung dan kedelai yang dibudidayakan di lahan sekitar area tambang nikel. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, berat kering biomassa, produksi serta kadar nikel dalam jaringan tanaman menggunakan spektrofotometri serapan atom (AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman jagung yang tumbuh pada media tanam dengan Ni rendah menghasilkan biomassa (bobot kering) dan produksi (biji) yang lebih banyak dibandingkan dengan yang ditanam pada media Ni tinggi, namun hasilnya masih sangat rendah dibandingkan pada kondisi media tanam Ni normal. Biji kedelai yang tumbuh pada media tanam dengan Ni tinggi mengandung logam Ni dalam jumlah lebih banyak yaitu 0.106 tan-1 melebihi nilai ambang batas logam Ni pada tanaman (Standar WHO) yaitu 10 µg g-1 berat kering sehingga tidak aman untuk dikonsumsi, sedang yang paling rendah adalah jagung yaitu 0.023 g kg-1.  Disimpulkan bahwa tanaman jagung dan kedelai tidak sesuai untuk dikembangkan di lahan pasca tambang karena produksi yang rendah. Nickel mining often leaves degraded land with heavy metal content, including nickel (Ni), which can be toxic to plants. This research was conducted in the form of an experiment at PT. Vale Nursery for six months (December 2023 to May 2024). The purpose of the study was to analyze the growth response and nickel absorption capacity of corn and soybean plants cultivated in the land around the nickel mining area. The parameters observed included plant height, number of leaves, dry weight of biomass, production and nickel levels in plant tissue using atomic absorption spectrophotometry (AAS). The results showed that corn plants grown in low Ni growing media produced more biomass (dry weight) and production (seeds) compared to those grown in high Ni media, but the results were still very low compared to normal Ni growing media conditions. Soybean seeds grown in high Ni growing media contained more Ni metal, namely 0.106 tan-1 exceeding the threshold value of Ni metal in plants (WHO Standard) which is 10 µg g-1 dry weight so it is not safe for consumption, while the lowest was corn, namely 0.023 g kg-1. It was concluded that corn and soybean plants were not suitable for development on post-mining land due to low production.
OPTIMALISASI PERAN PENYULUH PERTANIAN DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PADI SAWAH (Oryza sativa L.) DI KECAMATAN LAMASI, KABUPATEN LUWU (STUDI KASUS PETANI DI KECAMATAN LAMASI KABUPATEN LUWU) Margareta Sri Rejeki; Naima Haruna; Yasmin Yasmin
Jurnal Sains Agribisnis Vol 5 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/jsa.v5i1.1635

Abstract

Penyuluh pertanian memegang peranan penting dalam memfasilitasi serta membimbing petani agar dapat memberikan yang terbaik dalam pengelolahan usaha tani yang dilakukannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui optimalisasi peran penyuluh terhadap peningkatan produktivitas usahatani padi sawah di Kecamatan Lamasi Kabupaten Luwu dan tingkat produktivitas usahatani padi sawah di Kecamatan Lamasi kabupaten Luwu. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Lamasi Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan. Sampel pada penelitian ini berjumlah 96 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran penyuluh pertanian sebagai dinamisator di Kecamatan Lamasi Kabupaten Luwu dikategorikan sangat tinggi yaitu 89,34%. Peran penyuluh pertanian sebagai fasilitator di Kecamatan Lamasi Kabupaten Luwu dikategorikan sangat tinggi yaitu 89,24%. Peran penyuluh pertanian sebagai motivator di Kecamatan Lamasi Kabupaten Luwu dikategorikan sangat tinggi yaitu 86,61%. Peran penyuluh pertanian sebagai disemanasi informasi atau sebagai penghubung di Kecamatan Lamasi Kabupaten Luwu dikategorikan sangat tinggi yaitu 85,42 %. Serta tingkat produktivitas usahatani padi sawah meningkat, peranan penyuluh dalam proses pendampingan sangat tinggi karena produktvitas hasil kajian penelitian lebih besar di bandingkan dengan tingkat produktivitas tingkat Kecamatan Lamasi Kabupaten Luwu.
ANALISIS ALOKASI WAKTU DAN PENDAPATAN PETANI PADI SAWAH DI KECAMATAN TOMONI TIMUR KABUPATEN LUWU TIMUR I Wayan Silayasa; Suryanto Suryanto; Naima Haruna
Jurnal Sains Agribisnis Vol 5 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/jsa.v5i1.1682

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Tomoni Timur dan dipilih desa Kertoraharjo dan Margomulyo yaitu daerah Transmigrasi yang merupakan wilayah penghasil padi tertinggi di kabupaten luwu timur. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan dari bulan Nopember 2024 sampai April 2024, mulai dari persiapan proposal, penelitian, sampai dengan penyusunan laporan akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari perhitungan yang telah dilakukan, dalam berbagai tahapan dalam proses pertanian, mulai dari pengolahan lahan hingga pasca panen, total penggunaan tenaga kerja dalam semua kegiatan. Jumlah tenaga kerja yang digunakan adalah 32,50 orang, dengan total jam kerja 89,02 jam dan durasi 22,98 hari. Hasil HKSP total yang dicapai adalah 61,72, yang mencerminkan efisiensi kerja keseluruhan. Jika dihitung dalam satuan rupiah, nilai totalnya adalah Rp12.343.854. Dari perhitungan yang dilakukan, terlihat bahwa Pendapatan bersih dari kegiatan produksi padi sawah adalah Rp 20.965.591. Keuntungan yang diperoleh setelah mengurangi total biaya dengan total penerimaan mencerminkan hasil bersih yang didapat setelah seluruh biaya produksi diperhitungkan.
Optimasi Teknik Sambung Pucuk Untuk Meningkatkan Keberhasilan Grafting dan Kualitas Bibit Durian(Durio Zibenthinus Murr) Yiyis Adriani; Naima Haruna; Sitti Maryam Yasin
Journal TABARO Agriculture Science Vol. 10 No. 1: MEI 2026
Publisher : Universitas Andi Djemma Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35914/5y3y1q60

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model sambung pucuk yang memiliki tingkat keberhasilan tertinggi terhadap pertumbuhan bibit durian. Penelitian dilaksanakan di Desa Tandung, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara pada bulan Februari hingga April 2026 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan yaitu S1 (sambung celah), S2 (sambung sisip), S3 (sambung miring), dan S4 (sambung baji), masing-masing diulang tiga kali. Parameter yang diamati meliputi jumlah tunas, kecepatan pertumbuhan tunas, jumlah daun, lebar daun, dan panjang tunas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan model sambung pucuk berbeda nyata terhadap lebar daun pada umur 68 HSP dan panjang tunas pada seluruh periode pengamatan (47-68 HSP). Perlakuan S3 (sambung miring) menghasilkan panjang tunas tertinggi (5,00 cm) dan lebar daun terbaik (4,20 cm), sedangkan S4 (sambung baji) menunjukkan hasil terendah. Berdasarkan hasil penelitian, model sambung miring dan sambung sisip memberikan pertumbuhan terbaik dan disarankan bagi petani serta pengusaha bibit durian untuk menggunakan teknik tersebut karena memberikan hasil pertumbuhan vegetatif yang lebih baik.