Indonesia memiliki curah hujan yang tinggi namun juga mengalami musim kemarau, sehingga diperlukan sistem irigasi yang efektif untuk mendukung produktivitas pertanian. Pengukuran daerah irigasi menjadi aspek penting dalam perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan sistem irigasi, meliputi penentuan batas wilayah, kontur lahan, serta posisi bangunan irigasi. Theodolite digunakan untuk mengukur pergeseran horizontal dan vertikal, sedangkan waterpass digunakan untuk mendeteksi perubahan elevasi atau beda tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan hasil pengukuran menggunakan theodolite dan waterpass pada daerah irigasi Danau Wisata Koto Kari, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, dengan kondisi medan miring. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif. Data primer diperoleh melalui pengukuran langsung pada enam titik patok menggunakan theodolite dan waterpass, sedangkan data sekunder berasal dari literatur terkait. Analisis data meliputi perbandingan hasil pengukuran jarak dan beda tinggi, perhitungan luasan poligon tertutup, serta evaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran, seperti kondisi alat, teknik pengukuran, lingkungan, topografi, dan keterampilan operator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selisih rata-rata pengukuran jarak antara theodolite dan waterpass sebesar 0,0241 m, sedangkan selisih rata-rata beda tinggi sebesar 0,2128 m. Theodolite menunjukkan akurasi yang lebih baik pada jarak panjang, sementara waterpass lebih efektif untuk jarak pendek. Luasan daerah irigasi yang diperoleh berkisar 1,76 hektar dengan selisih hasil yang relatif kecil. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kedua alat dapat digunakan secara komplementer sesuai kebutuhan akurasi dan kondisi lapangan.
Copyrights © 2026