Penuaan menyebabkan penurunan komposisi tubuh, kekuatan otot, dan kontrol postural yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko jatuh pada lansia. Indeks Massa Tubuh (IMT) sering dikaitkan dengan gangguan mobilitas dan keseimbangan, namun bukti mengenai kekuatan hubungannya masih beragam. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara IMT dengan risiko jatuh pada lansia berdasarkan Timed Up and Go Test (TUG) dan Berg Balance Scale (BBS). Desain penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 30 lansia di Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKSLU) diukur berat badan, tinggi badan, IMT, waktu TUG, dan skor BBS. Responden dipilih menggunakan teknik total sampling terhadap lansia yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu berusia ≥60 tahun, mampu berjalan mandiri tanpa alat bantu, dan bersedia mengikuti seluruh prosedur pengukuran; lansia dengan gangguan kognitif berat atau kondisi medis akut yang membatasi mobilitas dieksklusi. Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan rerata IMT 24,98 ± 6,01 kg/m², TUG 12,95 ± 4,01 detik, dan BBS 51,13 ± 7,42. Uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan IMT dengan TUG sangat lemah dan tidak signifikan (rho=0,035; p=0,854), sedangkan hubungan IMT dengan BBS menunjukkan arah korelasi negatif namun tidak mencapai signifikansi statistik (rho=-0,335; p=0,071). Disimpulkan bahwa pada sampel ini IMT tidak berhubungan signifikan secara statistik dengan risiko jatuh berdasarkan TUG maupun BBS. Terdapat korelasi negatif lemah antara IMT dan BBS (rho=-0,335), namun secara statistik tidak signifikan (p=0,071; α=0,05), sehingga belum dapat disimpulkan adanya hubungan bermakna antara kedua variabel tersebut.. Faktor lain seperti kekuatan otot, usia, dan penyakit penyerta diduga turut berkontribusi terhadap keseimbangan dan mobilitas fungsional lansia, namun ketiganya tidak dianalisis sebagai variabel dalam penelitian ini sehingga memerlukan kajian lebih lanjut.
Copyrights © 2026