Artikel ini mengkaji dikotomi epistemologis antara keilmuan pesantren dan ilmu-ilmu modern serta menawarkan model integrasi keduanya di tengah tantangan globalisasi dan revolusi digital. Kajian ini penting karena dikotomi al-ulum al-diniyyah dan al-ulum al-kauniyyah selama ini melahirkan generasi ilmuwan sekuler yang abai nilai spiritual di satu sisi, dan ahli agama yang gagap menghadapi persoalan kontemporer di sisi lain. Penelitian ini bertujuan memetakan struktur epistemologi keilmuan pesantren, mengidentifikasi karakteristik filosofis-sosiologis ilmu modern, serta merumuskan model sintesis-integratif bagi pendidikan Islam. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) dan analisis filosofis-komparatif atas sumber primer dan sekunder. Hasil kajian menunjukkan bahwa keilmuan pesantren berpijak pada epistemologi bayani dan irfani yang bersumber dari kitab kuning, sanad, dan metode sorogan-bandongan, sedangkan ilmu modern bertumpu pada epistemologi burhani yang empiris, rasional, dan terbuka terhadap falsifikasi. Meskipun berbeda secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis, kedua tradisi keilmuan ini memiliki titik temu yang dapat dijembatani melalui model islamisasi ilmu pengetahuan, integrasi-interkoneksi keilmuan, serta fenomena pesantren sains (trensains) yang kini berkembang di Indonesia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dikotomi keilmuan merupakan kekeliruan sejarah yang perlu diakhiri, dan integrasi keilmuan pesantren-modern merupakan keniscayaan bagi keberlanjutan peradaban Islam.
Copyrights © 2026