Kemiskinan di kalangan petani Indonesia menghadirkan paradoks: di tengah penurunan angka kemiskinan nasional, rumah tangga agraris justru menanggung beban tiga kali lebih berat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi akar struktural kemiskinan petani melalui analisis kesenjangan, pemetaan spasial, dan determinan. Dengan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2023 yang mencakup 139.290 rumah tangga petani, penelitian ini menggabungkan statistik deskriptif, pemetaan spasial, dan regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama: (1) tingkat kemiskinan petani (28,4%) jauh melampaui rata-rata nasional (9,03%); (2) konsentrasi kemiskinan tertinggi di Indonesia Timur (Maluku-Papua 38,6%, Nusa Tenggara 34,2%); dan (3) faktor determinan utama adalah jumlah anggota rumah tangga (OR=1,328), rendahnya pendidikan (OR=0,689), akses kredit terbatas (OR=0,658), kurangnya diversifikasi pekerjaan (OR=0,593), dan lokasi di Indonesia Timur (OR=1,645). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kemiskinan petani merupakan akumulasi dari keterbatasan modal manusia, akses pembiayaan, dan ketergantungan pada pertanian yang belum terdiversifikasi. Temuan ini menegaskan perlunya intervensi kebijakan terarah, khususnya di Indonesia Timur.
Copyrights © 2026