Intervensi pencegahan penyalahgunaan narkoba di sekolah umumnya masih didominasi oleh pendekatan kognitif-informatif konvensional. Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan mengintegrasikan Model Proses Regulasi Emosi (Gross) untuk menganalisis kebutuhan media pembelajaran sebagai strategi preventif penyalahgunaan narkoba pada remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan desain need analysis pada tahap Analysis (model ADDIE). Subjek penelitian terdiri atas 118 peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Surabaya. Pengumpulan data menggunakan Skala Regulasi Emosi (40 aitem valid; $\alpha$ = 0,876), instrumen skrining DAST-10 yang diterapkan secara anonim, angket kebutuhan media, dan wawancara Guru Bimbingan dan Konseling. Hasil penelitian menunjukkan profil regulasi emosi peserta didik berada pada kategori sedang, di mana siswa dominan menggunakan strategi penghindaran (Pemilihan Situasi; 62,46%) namun sangat lemah dalam mengelola gejolak emosi (Modulasi Respons; 58,77%). Hasil skrining DAST-10 mendeteksi 79,6% siswa tidak bermasalah, namun keberadaan 11,8% siswa berisiko rendah dan 8,4% berisiko sedang menjadi sinyal peringatan dini (early warning) akan adanya kerentanan. Oleh karena itu, peserta didik menunjukkan tingkat kebutuhan yang tinggi (>65%) terhadap media pembelajaran yang interaktif, visual, dan berbasis simulasi. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan media pembelajaran yang secara spesifik melatih keterampilan modulasi respons sangat dibutuhkan oleh Guru BK untuk intervensi preventif. Mengingat keterbatasan studi ini yang bersifat deskriptif self-report pada satu sekolah, penelitian lanjutan dengan desain eksperimental sangat direkomendasikan.
Copyrights © 2026