Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh berbagai pola asuh orang tua terhadap kemampuan berpikir kritis siswa di tengah sistem sekolah yang non-kompetitif. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, data dikumpulkan dari 89 siswa SMP Negeri 32 Semarang melalui kuesioner skala Likert dan dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengkajian peran pola asuh sebagai factor penyemibang motivasi belajar yang hilang akibat kebijakan sekolah yang setara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh secara simultan berkontribusi sebesar 45,6% terhadap kemampuan berpikir kritis (Ϝ (3, 85) = 25.578, р < .001). Secara parsial, pola asuh demokratis menjadi satu-satunya prediktor positif yang signifikan (Β = 1.824, p < .001), sementara pola asuh permisif berpengaruh negatif secara signifikan, dan pola asuh otoriter tidak menunjukkan pengaruh bermakna. Kontribusi penelitian ini menegaskan bahwa dalam ekosistem pendidikan yang kurang kompetitif, dukungan rumah melalui pola asuh demokratis menjadi penentu utama dalam menjaga nalar kritis siswa. Implikasi praktisnya, sekolah melalui unit Bimbingan Konseling (BK) perlu menginisiasi program edukasi pola asuh bagi orang tua untuk menciptakan lingkungan diskusi yang suportif guna mengimbangi metode pembelajaran konvensional di sekolah.
Copyrights © 2026