Artikel ini mengkaji, dari perspektif historis dan reflektif, sosok Kiai Abdul Qohhar sebagai seorang cendekiawan Islam karismatik dari Ngruweng , Bayat, Klaten , yang memegang posisi penting sebagai guru spiritual dalam lingkungan Kasunanan Surakarta. Studi ini bertujuan untuk merekonstruksi peran dakwah dan warisan spiritual Kiai Abdul Qohhar melalui pendekatan historiografi kualitatif dengan menggabungkan sumber tertulis, tradisi lisan, dan observasi lapangan. Sumber utama penelitian ini meliputi Serat Sesingir yang ditulis oleh Paku Buwono IX, data media, dan wawancara dengan masyarakat setempat. Temuan menunjukkan bahwa Kiai Abdul Qohhar adalah utusan Paku Buwono IV dalam menyebarkan Islam di wilayah Bayat dan kemudian diakui sebagai guru spiritual istana kerajaan. Pendekatan dakwahnya bersifat budaya dan spiritual, tercermin dalam praktik riyadhah , tradisi haul , dan nilai-nilai kearifan lokal yang terus bertahan hingga saat ini. Studi ini juga mengidentifikasi masalah epistemologis dalam dominasi narasi lisan yang belum sepenuhnya didukung oleh sumber primer yang autentik. Jika direnungkan, Kiai Abdul Qohhar mewakili model dakwah Islam yang moderat, inklusif, dan patut dicontoh lintas generasi.
Copyrights © 2026