Arya Bagus Nur Ajiyanto
Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kiai Abdul Qohhar Bayat Klaten : Napak Tilas Tokoh Mahaguru Spiritual Kasunanan Surakarta Asrifah Nur Khasanah; Arya Bagus Nur Ajiyanto
Al-Absah: Journal of Civilization, Language, Literature, and History Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alabsah.v2i1.135

Abstract

Artikel ini mengkaji, dari perspektif historis dan reflektif, sosok Kiai Abdul Qohhar sebagai seorang cendekiawan Islam karismatik dari Ngruweng , Bayat, Klaten , yang memegang posisi penting sebagai guru spiritual dalam lingkungan Kasunanan Surakarta. Studi ini bertujuan untuk merekonstruksi peran dakwah dan warisan spiritual Kiai Abdul Qohhar melalui pendekatan historiografi kualitatif dengan menggabungkan sumber tertulis, tradisi lisan, dan observasi lapangan. Sumber utama penelitian ini meliputi Serat Sesingir yang ditulis oleh Paku Buwono IX, data media, dan wawancara dengan masyarakat setempat. Temuan menunjukkan bahwa Kiai Abdul Qohhar adalah utusan Paku Buwono IV dalam menyebarkan Islam di wilayah Bayat dan kemudian diakui sebagai guru spiritual istana kerajaan. Pendekatan dakwahnya bersifat budaya dan spiritual, tercermin dalam praktik riyadhah , tradisi haul , dan nilai-nilai kearifan lokal yang terus bertahan hingga saat ini. Studi ini juga mengidentifikasi masalah epistemologis dalam dominasi narasi lisan yang belum sepenuhnya didukung oleh sumber primer yang autentik. Jika direnungkan, Kiai Abdul Qohhar mewakili model dakwah Islam yang moderat, inklusif, dan patut dicontoh lintas generasi.
Krisis Makna Cinta Peradaban Modern: Telaah Humanisme Erich Fromm Dalam Buku The Art Of Loving Muhammad Arif Fur’qon; Arya Bagus Nur Ajiyanto
Al-Absah: Journal of Civilization, Language, Literature, and History Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alabsah.v2i1.142

Abstract

Penelitian ini mengkaji krisis makna cinta dalam peradaban modern melalui lensa humanisme Erich Fromm sebagaimana tersaji dalam The Art of Loving. Tujuan penelitian adalah (1) menganalisis konsep cinta dalam kerangka humanisme Fromm, (2) mengkaji kritik Fromm terhadap peradaban modern yang mereduksi cinta, dan (3) menjelaskan relevansi gagasan Fromm bagi kehidupan sosial kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif dan analisis interpretatif melalui close reading teks primer serta pemetaan literatur pendukung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Fromm memosisikan cinta sebagai sebuah art—keterampilan etis yang harus dilatih serta sebagai aktivitas produktif yang terdiri atas empat unsur: care, responsibility, respect, dan knowledge. Dalam peradaban modern, orientasi having (memiliki) yang didorong oleh kapitalisme dan rasionalitas instrumental telah menggeser orientasi being (menjadi), sehingga cinta kerap direduksi menjadi komoditas, mengalami relasi yang bersifat instrumental, dan menyuburkan alienasi emosional. Implikasi praktisnya terlihat pada rapuhnya solidaritas dan melemahnya fungsi humanistik cinta dalam ruang publik. Kemudian  menemukan titik temu penting antara gagasan Fromm dan nilai-nilai religious, terutama konsep rahmah dalam tradisi Islam sebagai landasan untuk mereaktualisasikan cinta sebagai tenaga moral dalam rekonstruksi etika sosial. Kesimpulannya, pemikiran Erich Fromm tetap relevan dan menawarkan kerangka konseptual yang berguna untuk memahami dan merespons krisis relasi kemanusiaan di era modern.