Remaja merupakan kelompok yang rentan mengikuti perilaku atau keputusan kelompok tanpa pertimbangan yang matang (herd behavior). Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh kemampuan regulasi diri yang belum berkembang secara optimal sehingga remaja lebih mudah mengikuti tekanan teman sebaya. Pada kondisi tersebut, remaja berpotensi mengalami perceived social exclusion, yaitu pengalaman subjektif ketika individu merasa diabaikan, ditolak, atau tidak dilibatkan dalam lingkungan sosialnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara deficient self-regulation dengan perceived social exclusion pada remaja yang mengalami herd behavior di Bekasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 152 remaja berusia 10–21 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian terdiri atas Skala Perceived Social Exclusion yang dimodifikasi dari Ostracism Experience Scale for Adolescents (OES-A) dan Skala Deficient Self-Regulation yang disusun berdasarkan teori Bandura. Kedua instrumen memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,870. Data dianalisis menggunakan aplikasi JASP melalui uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji korelasi Spearman. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal (p < 0,001), sehingga analisis dilanjutkan menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara deficient self-regulation dengan perceived social exclusion (ρ = 0,611; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi deficient self-regulation, semakin tinggi pula perceived social exclusion yang dirasakan remaja yang mengalami herd behavior. Penelitian ini menegaskan pentingnya kemampuan regulasi diri dalam membantu remaja menghadapi tekanan sosial serta mengurangi kecenderungan munculnya persepsi pengucilan sosial.
Copyrights © 2026