Epidemik obesitas menjadi salah satu tantangan terbesar kesehatan masyarakat global yang terus meningkat pesat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018, terdapat 21,8% remaja usia 18 tahun keatas mengalami obesitas. Obesitas terjadi disebabkan karena perubahan dan perkembangan jaman dan teknologi serta adanya pergeseran asupan makan tinggi kalori, gula, garam lemak dan kurangnya aktivitas fisik. Hal lainnya yang menjadi penyebab terjadinya obesitas adalah perilaku emotional eating. Emotional Eating merupakan salah satu perilaku makan (berlebihan) sebagai respons terhadap emosi negatif. Emotional Eating dapat berdampak pada kesehatan umum karena kelebihan asupan energi dan terganggunya kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan emotional eating dengan kejadian obesitas pada mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan UPN “Veteran” Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan teknik stratified random sampling dengan sampel sebanyak 108 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan emotional eating dengan kejadian obesitas pada mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan UPN “Veteran” Jakarta (p value =0,004; OR 95% CI = 3,326). Disarankan untuk remaja dapat memperhatikan perilaku pola makan ketika sedang menghadapi perasaan stres atau emosi negatif, yaitu dengan memilih makanan yang sehat dan bergizi serta sesuai dengan kebutuhan tubuh dan tidak berlebihan serta mengawasi dan memantau status gizi merupakan langkah yang penting untuk mencegah masalah kesehatan yang mungkin timbul di kemudian hari.
Copyrights © 2023