Perundungan (bullying) pada remaja meninggalkan trauma mendalam yang sering memicu krisis eksistensial, seperti hilangnya makna hidup, kecemasan berlebihan, dan perasaan tidak berdaya. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi pemikiran eksistensialisme (Jean-Paul Sartre, Viktor Frankl) dan stoisisme (Epictetus, Marcus Aurelius) sebagai kerangka filosofis untuk membangun resiliensi pada remaja pasca bullying. Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan kualitatif dengan pendekatan hermeneutik-filosofis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi konsep "kebebasan memilih makna" dari eksistensialisme dan "dikotomi kendali" dari stoisisme mampu membentuk resiliensi autentik. Rekonstruksi ini menghasilkan model resiliensi berbasis tiga pilar: akseptasi terhadap hal yang tak terkuasai (stoisisme), penciptaan makna atas penderitaan (eksistensialisme), serta komitmen tindakan etis. Simpulannya, sinergi kedua aliran filsafat ini menawarkan alternatif non-patologis bagi pendampingan remaja korban bullying, sekaligus memperkaya pendekatan psikologi positif dan konseling berbasis makna.
Copyrights © 2026