Abstract. Bajang Village in Mlarak District possesses superior potential in grape cultivation that has not been optimally utilized due to technological limitations, traditional marketing management, and weak institutional synergy. Key challenges include low productivity caused by pest infestations, conventional cultivation techniques, and limited marketing relying solely on local networks. The lack of collaboration between the Anggur Caru Club (ACC) and the Tourism Awareness Group (POKDARWIS) further hinders village development. Addressing these challenges, this community empowerment program was designed to develop EduAgroTourism Caru, a local product downstreaming model integrating grape agribusiness with educational tourism. The implementation method adopts a participatory approach through four stages: (1) problem identification using FGDs and field observations, (2) intensive training on grape cultivation, product processing, and digital marketing, (3) development of grape demonstration plots as learning laboratories, and (4) implementation of the EduAgroTourism Caru digital platform to expand market reach. The program involves strategic collaboration among ACC, POKDARWIS, village government, and Darussalam Gontor University. Results demonstrate significant community capacity improvement, reflected in a 50% income increase, value-added grape products (juice, kripik daun anggurs), and market expansion through digital marketing strategies. The key innovation lies in the green economy concept combining agricultural education, ecotourism, and information technology, creating a sustainable community-based tourism model. This success confirms that multidisciplinary empowerment approaches can effectively solve local product downstreaming challenges. To ensure sustainability, institutional strengthening, targeted village fund allocation, and model replication to similar regions are essential. Abstrak. Desa Bajang, Kecamatan Mlarak, memiliki potensi unggulan budidaya anggur yang belum termanfaatkan secara optimal akibat keterbatasan teknologi, manajemen pemasaran tradisional, dan lemahnya sinergi kelembagaan. Masalah utama meliputi rendahnya produktivitas akibat serangan hama, teknik budidaya konvensional, serta pemasaran terbatas yang hanya mengandalkan jaringan lokal. Minimnya kolaborasi antara Anggur Caru Club (ACC) dan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) turut menghambat pengembangan potensi desa. Berangkat dari tantangan tersebut, program pengabdian ini dirancang untuk memberdayakan masyarakat melalui pengembangan Eduagrowisata Caru, sebuah model hilirisasi produk lokal yang mengintegrasikan agribisnis anggur dengan pariwisata edukatif. Metode pelaksanaan mencakup pendekatan partisipatif melalui empat tahap: (1) identifikasi masalah berbasis FGD dan observasi lapangan, (2) pelatihan intensif budidaya anggur, pengolahan produk, dan pemasaran digital, (3) pengembangan demplot anggur sebagai laboratorium pembelajaran, serta (4) implementasi platform digital Eduagrowisata Caru untuk memperluas jangkauan pemasaran. Program ini melibatkan kolaborasi strategis antara ACC, POKDARWIS, pemerintah desa, dan Universitas Darussalam Gontor. Hasilnya menunjukkan peningkatan kapasitas masyarakat yang signifikan, tercermin dari kenaikan pendapatan 50%, terciptanya produk olahan anggur bernilai tambah (jus, kripik daun anggur), dan perluasan pasar melalui strategi digital marketing. Inovasi utama terletak pada konsep green economy yang memadukan edukasi pertanian, ekowisata, dan teknologi informasi, menghasilkan model desa wisata berkelanjutan berbasis komunitas. Keberhasilan ini menegaskan bahwa pendekatan pemberdayaan multidisiplin dapat menjadi solusi efektif untuk hilirisasi produk lokal. Agar dampaknya berkelanjutan, diperlukan penguatan kelembagaan, alokasi dana desa yang tepat sasaran, serta replikasi model ke wilayah lain dengan karakteristik serupa.
Copyrights © 2025