Muhamad Redho Al Faritzi
Universitas Darussalam Gontor

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PELATIHAN PEMBELAJARAN AL-QUR'AN DENGAN METODE ASY-SYAFI’I DI MADRASAH IBTIDAIYAH MUMTAZ PONOROGO Aqdi Rofiq Asnawi; Mujib Abdurrahman; Muhamad Redho Al Faritzi; Alfian Fatih Rizqi; Muhammad Sabilillah; Al Hadiy Fakhrul Arifin; Muhammad Renaldi Syapriani; Ryfal Nanda Syaputra
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2023): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i2.12089

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini berfokus untuk memberikan pelatihan sekaligus memperkenalkan metode Asy-Syafi’i dalam pembelajaran Al-Qur'an di MI Mumtaz Ponorogo. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan santri juga pengajar di MI Mumtaz Ponorogo terkait metode dalam pembelajaran Al-Qur'an. Permasalahan yang dialami mitra adalah terkait pengetahuan terhadap metode Asy-Syafi’i dalam pembelajaran Al-Qur'an, masih banyak yang belum mengetahui apa dan bagaimana itu metode Asy-Syafi’i. Untuk mengatasi permasalahn mitra tersebut tim pengabdi melaksanakan pengenalan sekaligus pelatihan terhadap para pengajar dan santri untuk meningkatkan pengetahuan mereka terhadap banyaknya metode pembelajaran Al-Qur'an, salah satunya adalah metode Asy-Syafi’i. Metode yang digunakan dalam pengabdian kepada masyarakat ini meliputi perencanan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi. Dengan diadakannya pelatihan ini diharapkan para santri dan pengajar di MI Mumtaz Ponorogo dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan terkait macam-macam metode dalam pembelajaran Al-Qur'an seperti metode Asy-Syafi’i. Hasil pengabdian masyarakat ini dapat dilihat dari meningkatnya pengetahuan mitra terkait metode Asy-Syafi’i dalam pembelajaran Al-Qur'an. Metode ini menjelaskan dengan ringkas dan praktis sehingga memudahkan bagi seseorang untuk memahami permasalahan dan hukum yang ada pada ilmu tajwid. Metode Asy-Syafi’i merupakan cara yang memudahkan masyarakat dalam mempelajari cara membaca Al-Qur’an.
PEMBENTUKAN EDUAGROWISATA CARU BERBASIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEBAGAI UPAYA HILIRISASI PRODUK LOKAL DESA BAJANG KECAMATAN MLARAK Niken Sylvia Puspitasari; Muhammad Diaz Supandi; Muhamad Redho Al Faritzi; Muhammad Hafidz Syaputra Utama
Jurnal Terapan Abdimas Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jta.v10i2.21401

Abstract

Abstract. Bajang Village in Mlarak District possesses superior potential in grape cultivation that has not been optimally utilized due to technological limitations, traditional marketing management, and weak institutional synergy. Key challenges include low productivity caused by pest infestations, conventional cultivation techniques, and limited marketing relying solely on local networks. The lack of collaboration between the Anggur Caru Club (ACC) and the Tourism Awareness Group (POKDARWIS) further hinders village development. Addressing these challenges, this community empowerment program was designed to develop EduAgroTourism Caru, a local product downstreaming model integrating grape agribusiness with educational tourism. The implementation method adopts a participatory approach through four stages: (1) problem identification using FGDs and field observations, (2) intensive training on grape cultivation, product processing, and digital marketing, (3) development of grape demonstration plots as learning laboratories, and (4) implementation of the EduAgroTourism Caru digital platform to expand market reach. The program involves strategic collaboration among ACC, POKDARWIS, village government, and Darussalam Gontor University. Results demonstrate significant community capacity improvement, reflected in a 50% income increase, value-added grape products (juice, kripik daun anggurs), and market expansion through digital marketing strategies. The key innovation lies in the green economy concept combining agricultural education, ecotourism, and information technology, creating a sustainable community-based tourism model. This success confirms that multidisciplinary empowerment approaches can effectively solve local product downstreaming challenges. To ensure sustainability, institutional strengthening, targeted village fund allocation, and model replication to similar regions are essential.   Abstrak. Desa Bajang, Kecamatan Mlarak, memiliki potensi unggulan budidaya anggur yang belum termanfaatkan secara optimal akibat keterbatasan teknologi, manajemen pemasaran tradisional, dan lemahnya sinergi kelembagaan. Masalah utama meliputi rendahnya produktivitas akibat serangan hama, teknik budidaya konvensional, serta pemasaran terbatas yang hanya mengandalkan jaringan lokal. Minimnya kolaborasi antara Anggur Caru Club (ACC) dan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) turut menghambat pengembangan potensi desa. Berangkat dari tantangan tersebut, program pengabdian ini dirancang untuk memberdayakan masyarakat melalui pengembangan Eduagrowisata Caru, sebuah model hilirisasi produk lokal yang mengintegrasikan agribisnis anggur dengan pariwisata edukatif. Metode pelaksanaan mencakup pendekatan partisipatif melalui empat tahap: (1) identifikasi masalah berbasis FGD dan observasi lapangan, (2) pelatihan intensif budidaya anggur, pengolahan produk, dan pemasaran digital, (3) pengembangan demplot anggur sebagai laboratorium pembelajaran, serta (4) implementasi platform digital Eduagrowisata Caru untuk memperluas jangkauan pemasaran. Program ini melibatkan kolaborasi strategis antara ACC, POKDARWIS, pemerintah desa, dan Universitas Darussalam Gontor. Hasilnya menunjukkan peningkatan kapasitas masyarakat yang signifikan, tercermin dari kenaikan pendapatan 50%, terciptanya produk olahan anggur bernilai tambah (jus, kripik daun anggur), dan perluasan pasar melalui strategi digital marketing. Inovasi utama terletak pada konsep green economy yang memadukan edukasi pertanian, ekowisata, dan teknologi informasi, menghasilkan model desa wisata berkelanjutan berbasis komunitas. Keberhasilan ini menegaskan bahwa pendekatan pemberdayaan multidisiplin dapat menjadi solusi efektif untuk hilirisasi produk lokal. Agar dampaknya berkelanjutan, diperlukan penguatan kelembagaan, alokasi dana desa yang tepat sasaran, serta replikasi model ke wilayah lain dengan karakteristik serupa.