Pertumbuhan populasi penduduk di kawasan perkotaan menyebabkan keterbatasan lahan untuk pembangunan, sehingga mendorong penerapan konstruksi gedung bertingkat tinggi dan pemanfaatan ruang bawah tanah berupa basement. Kondisi kawasan perkotaan yang padat permukiman, lahan yang terbatas, serta karakteristik tanah yang kurang mendukung menuntut penggunaan metode konstruksi yang efisien, salah satunya adalah metode semi top-down. Metode ini dilaksanakan dengan pembangunan struktur basement dari elevasi nol ke arah bawah, kemudian dilanjutkan dengan pembangunan struktur atas setelah struktur bawah selesai. Penelitian ini membahas konsep pelaksanaan konstruksi basement dengan metode semi top-down, khususnya pada pekerjaan pelat lantai (slab) dan balok (beam), termasuk pengendalian mutu material serta permasalahan teknis yang terjadi selama pelaksanaan. Pekerjaan slab dan beam dilaksanakan berdasarkan shop drawing dan method of statement yang telah direncanakan. Pengendalian mutu material dilakukan melalui uji slump beton, uji kuat tekan beton, uji tarik dan uji lentur baja tulangan. Permasalahan teknis yang ditemukan meliputi terjadinya cold joint, penyumbatan pipa pada truk concrete pump, serta terbentuknya honeycomb pada beton, yang masing-masing permasalahan diselesaikan melalui pembobokan, pembersihan pipa menggunakan air compressor, dan perbaikan beton dengan metode grouting secara berturut-turut.
Copyrights © 2026