Manado dikenal secara nasional sebagai kota dengan tingkat toleransi yang tinggi, yang tercermin dalam semboyan "Torang Samua Basudara". Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan masyarakat Kristen di Manado terhadap kemajemukan agama dan budaya. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan studi literatur, artikel ini membedah berbagai dimensi yang membentuk konstruksi berpikir masyarakat Kristen dalam merespons kehadiran "liyan" (the other). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan masyarakat Kristen di Manado terhadap kemajemukan tidak hanya didasarkan pada landasan teologis kasih, tetapi juga dipengaruhi secara kuat oleh nilai-nilai kearifan lokal. Sinergi antara pemahaman Alkitabiah dan tradisi budaya menciptakan model pluralisme yang organik dan fungsional. Artikel ini menyimpulkan bahwa pendidikan kristen dan peran institusi gereja menjadi faktor kunci dalam melanggengkan harmoni di tengah arus globalisasi dan tantangan radikalisme.
Copyrights © 2026