Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan komoditas strategis yang berperan penting dalam perekonomian global, khususnya di Indonesia. Keberhasilan produksi tanaman ini sangat ditentukan oleh kualitas bibit pada fase pembibitan awal, yang berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif dan potensi hasil di masa mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aplikasi Trichoderma dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit, serta mengevaluasi interaksi kedua perlakuan dalam menentukan kombinasi dosis yang optimal. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor, yaitu Trichoderma (0, 20, dan 40 g/bibit) dan pupuk NPK (0, 0,5, dan 1 g/bibit), dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman dan jumlah daun pada umur 4–10 minggu setelah tanam (MST). Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) pada taraf 5%, dilanjutkan dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk NPK berpengaruh signifikan terhadap peningkatan tinggi tanaman (p < 0,05) dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,58, sedangkan Trichoderma tidak menunjukkan pengaruh signifikan secara parsial. Interaksi antara Trichoderma dan NPK memberikan pengaruh signifikan terhadap tinggi tanaman (R² = 0,62; p = 0,032), namun tidak signifikan terhadap jumlah daun. Pertumbuhan jumlah daun cenderung stabil dan tidak menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan. Pupuk NPK berperan dominan dalam meningkatkan pertumbuhan vegetatif bibit kelapa sawit, khususnya tinggi tanaman, sedangkan Trichoderma berfungsi sebagai faktor pendukung yang meningkatkan efisiensi pertumbuhan melalui mekanisme biologis. Dengan demikian, kombinasi pupuk anorganik dan agen hayati berpotensi dikembangkan sebagai strategi pembibitan yang lebih berkelanjutan, meskipun diperlukan optimasi dosis dan kondisi aplikasi untuk memperoleh efek sinergis yang maksimal.
Copyrights © 2026