Faktor pendukung keberhasilan penanaman padi diantaranya adalah ketersediaan benih dalam jumlah yang cukup, bermutu tinggi, dan tersedia ketika dibutuhkan. Uji viabilitas benih padi secara konvensional pada umumnya memerlukan waktu cukup lama, sekitar 14 hari. Oleh karena itu, perlu dikembangkan beberapa metode uji cepat viabilitas benih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pewarnaan benih padi, perbedaan viabilitas yang diuji tetrazolium konsentrasi 0,25%, dan mengetahui hubungan antara nilai viabilitas benih yang diuji kecambah dengan yang diuji tetrazolium 0,25%. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2023 di Laboratorium Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Jawa Tengah. Perlakuan yang digunakan adakah pengujian menggunakan uji kecambah langsung (uji kertas digulung dalam plastik) dan metode uji tetrazolium konsentrasi 0,25%. Benih yang digunakan adalah benih dengan waktu penyimpanan yang berbeda-beda (0, 1, 2, dan 3 bulan) untuk mendapatkan variasi vigor benih. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis visual dan deskriptif, uji t serta analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji tetrazolium dengan konsentrasi 0,25% pada benih padi Inpari 42 menghasilkan 7 pola pewarnaan yang dikelompokkan menjadi 4 pola benih viabel dan 3 pola pewarnaan benih non viabel. Pengujian tetrazolium konsentrasi 0,25% menunjukkan hasil yang tidak berpengaruh signifikan dan mempunyai keeratan hubungan dengan hasil uji perkecambahan secara langsung, sehingga uji cepat dapat digunakan sebagai pengganti uji perkecambahan (konvensional) untuk skala luas.
Copyrights © 2024