Artikel ini menganalisis pergeseran paradigma komunikasi organisasi dalam lembaga pendidikan Islam, khususnya dari model positivistik yang menempatkan komunikasi sebagai saluran transmisi instruksi menuju paradigma konstitutif yang memahami komunikasi sebagai proses pembentuk organisasi. Penelitian dilakukan pada MA Andalusia melalui pendekatan kualitatif studi kasus dengan wawancara mendalam, penelusuran praktik komunikasi organisasi, dan telaah dokumen serta media kelembagaan. Data dianalisis secara tematik untuk menemukan pola keterbukaan komunikasi, proses pengambilan keputusan, penggunaan media digital, pembentukan identitas organisasi, dan relasi komunikasi dengan pemangku kepentingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi organisasi madrasah bergerak ke arah dialogis, partisipatif, dan adaptif. Guru, pimpinan, siswa, komite, serta wali santri terlibat dalam praktik komunikasi yang membentuk budaya organisasi, meskipun hambatan psikologis pada guru muda dan keterbatasan strategi komunikasi eksternal masih ditemukan. WhatsApp dan Instagram tidak hanya berfungsi sebagai kanal informasi, tetapi juga sebagai arena pembentukan citra, koordinasi, dan jaringan sosial sekolah. Kultur kepesantrenan yang menekankan tafaqquh fiddin dan pembentukan akhlak menjadi basis identitas organisasi. Kajian ini menegaskan bahwa paradigma konstitutif lebih memadai untuk menjelaskan dinamika komunikasi organisasi madrasah di era globalisasi karena mampu membaca organisasi sebagai realitas sosial yang terus diproduksi melalui komunikasi.
Copyrights © 2026