Kota Bengkulu merupakan salah satu wilayah pesisir yang terletak pada jalur subduksi Sunda, sehingga memiliki potensi bahaya gempa bumi dan tsunami. Penelitian ini bertujuan memetakan tingkat bahaya tsunami dan zona keterpaparan spasial kawasan permukiman di Kota Bengkulu sebagai informasi dasar untuk mendukung mitigasi bencana berbasis spasial. Metode yang digunakan adalah pendekatan spasial-kuantitatif melalui analisis weighted overlay dengan mempertimbangkan empat parameter biofisik, yaitu ketinggian, kelerengan, jarak dari garis pantai, dan jarak dari sungai. Data utama diperoleh dari DEMNAS, peta garis pantai, jaringan sungai, jaringan jalan, serta data batimetri. Hasil analisis menunjukkan bahwa kawasan pesisir Kota Bengkulu memiliki konsentrasi kelas bahaya hingga sangat bahaya, terutama di sekitar Pantai Panjang, Kecamatan Ratu Agung, dan Kecamatan Ratu Samban. Sebaliknya, kawasan dengan tingkat bahaya relatif lebih rendah teridentifikasi di Kecamatan Sungai Serut dan Kecamatan Selebar. Analisis keterpaparan menunjukkan bahwa 22,22% luas kawasan permukiman berada pada kelas bahaya dan sangat bahaya, yang menunjukkan adanya konsentrasi keterpaparan spasial permukiman pada zona dengan tingkat bahaya relatif tinggi. Temuan tersebut memberikan informasi spasial mengenai lokasi permukiman yang perlu menjadi perhatian dalam pengendalian pemanfaatan ruang dan perencanaan mitigasi. Hasil pemetaan dapat digunakan sebagai informasi dasar untuk mendukung evaluasi tata ruang, penentuan kebutuhan kajian jalur dan fasilitas evakuasi, serta pengembangan strategi mitigasi kawasan pesisir, dengan penentuan intervensi teknis memerlukan analisis lanjutan mengenai aksesibilitas, kesesuaian penggunaan lahan, kapasitas evakuasi, dan kondisi sosial masyarakat.
Copyrights © 2026