Kultur ujian di madrasah tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme evaluasi hasil belajar, tetapi juga menjadi ruang sosial yang memperlihatkan relasi antara kejujuran akademik, tekanan prestasi, kontrol sosial, dan rasionalitas siswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis kultur ujian di MAN 1 Purbalingga dengan memfokuskan kajian pada praktik kejujuran akademik, tekanan prestasi, dan rasionalitas siswa dalam menghadapi tuntutan evaluasi pembelajaran. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi dengan melibatkan 25 informan yang terdiri atas kepala madrasah, guru/wali kelas, dan siswa. Data dianalisis melalui reduksi data, kategorisasi tematik, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memahami kejujuran sebagai nilai akademik sekaligus nilai religius, tetapi dalam situasi tertentu tekanan memperoleh nilai tinggi mendorong sebagian siswa melakukan kompromi terhadap prinsip tersebut. Guru dan madrasah berperan sebagai agen kontrol sosial melalui pembiasaan nilai kejujuran, tata tertib, pengawasan, dan pemanfaatan sistem ujian digital. Namun, digitalisasi tidak sepenuhnya menghilangkan kecurangan, melainkan mengubah bentuk dan strategi pelanggaran akademik. Temuan juga menunjukkan adanya rasionalitas instrumental ketika siswa mempertimbangkan manfaat, risiko, dan tujuan akademik dalam menentukan perilaku selama ujian. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan integritas akademik di madrasah perlu mengintegrasikan pendidikan karakter, pengelolaan tekanan prestasi, kontrol sosial, dan literasi etis dalam penggunaan teknologi.
Copyrights © 2026