Perundungan di tingkat sekolah dasar umumnya bermanifestasi dalam bentuk verbal dan fisik yang ringan, seperti menggoda, mengejek, dan mendorong saat bermain, yang sering dinormalisasi sebagai lelucon dan karenanya sulit dikenali, namun tetap memengaruhi prestasi akademik dan kesehatan mental korban. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengevaluasi implementasi program Sosialisasi Anti-Perundungan di SDN 2 Sumber, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, dalam meningkatkan pemahaman, empati, dan kesadaran moral siswa tentang bentuk, dampak, dan pencegahan perundungan. Program ini dirancang dengan diferensiasi berdasarkan usia, mengintegrasikan penyampaian materi interaktif, permainan edukatif, bermain peran, membaca bersama, dan refleksi diri. Hasil menunjukkan partisipasi siswa yang tinggi, peningkatan kemampuan untuk mengenali bentuk-bentuk perundungan, pertumbuhan empati melalui bermain peran, dan kesadaran diri melalui sesi refleksi. Pendekatan multisensori dan diferensiasi usia terbukti efektif dalam membentuk sikap positif siswa terhadap isu perundungan, meskipun pendampingan berkelanjutan dan perluasan ke pendidikan cyberbullying masih diperlukan.
Copyrights © 2026