Relasi kiai-santri merupakan karakteristik penting pendidikan pesantren yang dibangun melalui otoritas keilmuan, keteladanan, dan tradisi ta'dhim. Namun, relasi ini menghadirkan persoalan pedagogis ketika penghormatan dan kepatuhan berhadapan dengan tuntutan pembentukan kemandirian, daya kritis, dan tanggung jawab personal santri. Artikel ini bertujuan menganalisis ambivalensi tersebut melalui konsep Khudi Muhammad Iqbal dan merumuskan orientasi pedagogis ta'dhim dalam pendidikan pesantren. Penelitian menggunakan kajian pustaka kritis-integratif terhadap 28 sumber, terdiri atas 24 artikel jurnal terbit 2019–2026 dan empat karya fondasional mengenai pesantren, ta'dhim, dan pemikiran Iqbal. Data dianalisis melalui pemetaan tematik, perbandingan argumentasi, dan sintesis konseptual. Hasil kajian menunjukkan bahwa ta'dhim dapat memperkuat Khudi ketika otoritas pedagogis kiai mengarahkan santri pada disiplin diri, internalisasi nilai, dialog, kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan aktualisasi potensi. Sebaliknya, ta'dhim melemahkan Khudi ketika kepatuhan berkembang menjadi dominasi yang menutup penalaran, pilihan, dan tanggung jawab personal. Artikel ini menawarkan konsep ta'dhim transformatif sebagai model relasi pedagogis yang mempertahankan penghormatan terhadap otoritas keilmuan kiai sekaligus mengarahkannya pada pembentukan santri sebagai subjek moral dan intelektual yang berdaya.
Copyrights © 2026