Bahan baku beras ketan menjadi komponen utama yang perlu dikendalikan agar proses produksi pada UMKM Rengginang UD Yani Jaya Samarinda dapat berjalan lancar. Permasalahan yang terjadi adalah pengadaan bahan baku masih dilakukan berdasarkan perkiraan pemilik usaha, sehingga berpotensi menimbulkan kelebihan stok maupun kekurangan bahan baku. Penelitian ini bertujuan menentukan jumlah pemesanan beras ketan yang ekonomis, frekuensi pemesanan, persediaan pengaman, titik pemesanan kembali, serta membandingkan total biaya persediaan antara kebijakan UMKM dan metode Economic Order Quantity (EOQ). Tahapan pengolahan data meliputi identifikasi jenis permintaan melalui uji variabilitas, analisis pola data menggunakan uji autokorelasi, peramalan permintaan, konversi hasil peramalan menjadi kebutuhan bahan baku, serta perhitungan persediaan dengan metode EOQ. Hasil uji variabilitas menunjukkan nilai sebesar 0,064693 untuk rengginang 180 gram dan 0,048731 untuk rengginang 240 gram, sehingga kedua data permintaan termasuk statis. Metode peramalan terbaik untuk rengginang 180 gram adalah Double Moving Average dengan MAPE 10,757%, sedangkan rengginang 240 gram menggunakan Trend Linear dengan MAPE 11,770%. Hasil peramalan 12 periode menghasilkan permintaan sebesar 32.184 pcs untuk rengginang 180 gram dan 25.125 pcs untuk rengginang 240 gram, yang kemudian dikonversikan menjadi kebutuhan beras ketan sebesar 9.106 kg per tahun. Hasil EOQ menunjukkan jumlah pemesanan optimal sebesar 1.212 kg atau sekitar 49 karung dengan frekuensi 8 kali pemesanan per tahun. Safety stock yang diperoleh sebesar 129 kg dan reorder point sebesar 161 kg. Total biaya persediaan dengan EOQ sebesar Rp247.287, lebih rendah dibandingkan kebijakan UMKM sebesar Rp444.195, sehingga diperoleh penghematan Rp196.908 atau sekitar 44%.
Copyrights © 2026