Di era digital dan globalisasi saat ini, keterampilan literasi fisik serta adaptabilitas psikomotorik anak menjadi modal krusial yang harus dimiliki siswa untuk menghadapi tantangan masa depan. Pengajaran berbasis pendekatan personal, adaptif, dan kontekstual dipandang sebagai strategi kreatif serta efektif untuk menstimulasi aspek tersebut secara optimal. Namun, sebagian besar penelitian terdahulu lebih berfokus pada evaluasi kuantitatif kebugaran umum tanpa membedakan batasan geografis yang spesifik. Penelitian Penjasorkes ini mengevaluasi hambatan nyata, dampak isolasi geografis, serta faktor psiko-fisik yang memengaruhi tingkat kebugaran motorik anak-anak di wilayah pesisir. Tujuan utama dari penelitian kualitatif ini adalah mengeksplorasi secara mendalam anatomi krisis kebugaran motorik serta mengidentifikasi hambatan internal maupun eksternal yang dihadapi mereka. Menggunakan desain eksploratif kualitatif dengan teknik analisis tematik, pengumpulan data dilakukan melalui rekaman dokumentasi riset Penjasorkes terdahulu yang mencakup catatan klinis, observasi gerak, dan wawancara terstruktur tanpa melibatkan perangkat digital khusus. Hasil penelitian mengungkap dampak negatif yang signifikan akibat keterbatasan ruang publik dan hambatan psikologis berupa kecemasan gerak terhadap performa motorik anak. Ditemukan bahwa scaffolding dalam bentuk dukungan lingkungan sosial dan variasi permainan tradisional menjadi variabel utama yang memengaruhi peningkatan kemampuan psikomotorik mereka secara positif, sementara faktor sarana olahraga formal modern terbukti tidak berpengaruh signifikan dalam memicu minat gerak mandiri. Kesimpulannya, krisis ini memerlukan intervensi kurikulum Penjasorkes kontekstual berbasis kearifan lokal guna memulihkan keterbatasan psiko-fisik anak.
Copyrights © 2026