Penurunan produksi jagung di Kabupaten Sumba Timur yang diduga dipicu oleh serangan hama ulat grayak (Spodoptera frugiperda) dan dampak negatif penggunaan pestisida kimia mendorong pencarian alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan, seperti pestisida nabati dari ekstrak daun tembakau. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pestisida nabati ekstrak daun tembakau terhadap mortalitas ulat grayak serta menentukan dosis ekstrak yang memberikan mortalitas tertinggi. Penelitian ini bersifat eksperimental. Metode yang digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan pada larva instar-3 Spodoptera frugiperda sebagai sampel (perlakuan berbagai konsentrasi ekstrak daun tembakau), dan data mortalitas, kecepatan kematian, penurunan aktivitas makan, serta gejala kematian dianalisis menggunakan ANOVA diikuti uji lanjut DMRT pada α = 5%. Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun tembakau efektif meningkatkan mortalitas ulat grayak dan menurunkan aktivitas makannya, dengan konsentrasi 25% (P5) paling cepat dan paling tinggi efeknya. Analisis ANOVA memperlihatkan pengaruh yang sangat signifikan pada mortalitas, kecepatan kematian, dan penurunan aktivitas makan (Fhit > Ftab; p < 0,01), dan uji lanjut menunjukkan P5 berbeda nyata dari perlakuan lain. Hasil ini mengindikasikan bahwa meningkatnya konsentrasi ekstrak—kemungkinan besar kandungan nikotin yang lebih tinggi—meningkatkan toksisitas terhadap S. frugiperda sehingga mempercepat gejala keracunan dan kematian. Ekstrak daun tembakau terbukti efektif meningkatkan mortalitas dan menurunkan aktivitas makan ulat grayak secara dosis-respons, dengan konsentrasi 25% (P5) paling efektif, ekstrak ini berpotensi dikembangkan sebagai alternatif pestisida nabati yang lebih ramah lingkungan untuk pengendalian Spodoptera frugiperda pada budidaya jagung.
Copyrights © 2026