Artikel ini mengkaji rekonstruksi nilai akhlak Islam sebagai fondasi pendidikan karakter digital generasi muda. Penelitian dilatarbelakangi meningkatnya persoalan akhlak digital, seperti cyberbullying, hoaks, ujaran kebencian, komunikasi kasar, narsisme digital, dan melemahnya adab dalam interaksi di ruang digital. Kondisi tersebut menunjukkan kesenjangan antara kecakapan teknologi dan internalisasi nilai moral. Kajian literasi digital selama ini cenderung berfokus pada kemampuan teknis, keamanan digital, dan kemampuan berpikir kritis, sementara integrasi akhlak Islam sebagai kerangka sistematis pembentukan karakter digital belum dirumuskan secara komprehensif dalam pendidikan generasi muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan menelaah Al-Qur’an, Hadis, literatur klasik akhlak Islam, serta kajian kontemporer tentang pendidikan karakter, literasi digital, dan etika digital. Data dianalisis secara deskriptif-analitis menggunakan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persoalan akhlak digital tidak cukup diatasi melalui literasi teknis, tetapi memerlukan pendidikan karakter yang mengintegrasikan teknologi dengan orientasi moral dan pengendalian diri. Nilai tabayyun, amanah, haya’, hifz al-lisan, rahmah, ‘adl, dan tanggung jawab sosial direkonstruksi ke dalam lima dimensi karakter digital: spiritual, personal, sosial, intelektual, dan komunikatif. Kebaruan penelitian terletak pada kerangka konseptual yang menerjemahkan akhlak Islam ke dalam dimensi karakter yang relevan dengan perilaku digital generasi muda. Secara teoretis, kerangka ini memperluas kajian pendidikan karakter dan etika digital.
Copyrights © 2026