Pertumbuhan volume air freight di PT Ritra Cargo Indonesia Cabang Bali meningkatkan beban administrasi, koordinasi, kepabeanan, dan penanganan kargo, sementara keterlambatan dokumen, kesiapan barang, gangguan CEISA, serta proses Ground Handling JAS masih memicu keterlambatan berantai hingga kegagalan keberangkatan. Kajian ini menganalisis alur operasional air freight, mekanisme koordinasi internal dan eksternal, bottleneck utama, serta strategi perbaikan pada aktivitas ekspor perusahaan. Pendekatan kualitatif deskriptif diterapkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposif dan terdiri atas Manajer Air Freight, Staf Admin, Staf Operasional Airport, serta Staf Gudang/Traffic. Data sekunder mencakup job description, alur JAS, dokumen PEB dan NPE melalui CEISA, serta arsip operasional. Analisis dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, verifikasi simpulan, serta pemetaan proses dengan DMAIC, COSO, dan Theory of Constraints. Hasil menunjukkan bahwa alur kerja telah tersusun dari penerimaan booking hingga pengarsipan, tetapi skema FEA lebih kompleks daripada CEA. Tiga bottleneck utama muncul sebelum barang masuk bandara, pada proses CEISA, serta pada airport handling dan JAS. Pembagian tanggung jawab telah jelas, namun kecepatan proses masih bergantung pada respons pihak terkait, kestabilan jaringan, dan ketepatan informasi. Temuan ini menegaskan perlunya checklist dokumen, pengajuan PEB lebih awal, standardisasi kesiapan barang, PIC setiap shipment, logbook kendala, serta evaluasi dan pelatihan teknis berkala untuk menekan kesalahan dan menjaga ketepatan keberangkatan kargo.
Copyrights © 2026