Abstract: This study examined changes in social studies learning outcomes after audiovisual media was used in the Package C equivalency program at PKBM Bina Insani, North Konawe Regency. A quantitative pre-experimental approach with a one-group pretest–posttest design was applied. The population comprised 30 learners, while the analysis involved 17 learners selected through purposive sampling. Learning outcomes were measured using multiple-choice pretest and posttest items, with documentation as supporting data. Descriptive statistics and a paired-samples t-test were used at a significance level of .05. The mean score increased from 52.35 (range 23–73) before the intervention to 70.41 (range 57–87) afterward, representing an 18.06-point gain. The paired comparison was statistically significant (p < .001). The findings indicate higher immediate social studies scores after instruction supported by audiovisual media. Because the design lacked a comparison group, testing, maturation, and concurrent influences cannot be excluded; therefore, the result does not establish exclusive causality. Audiovisual media may be used as a complementary learning resource in Package C settings, while future studies should employ control groups, larger samples, validated instruments, effect-size estimates, and delayed posttests. Abstrak: Penelitian ini menguji perubahan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial setelah media audiovisual digunakan pada Program Kesetaraan Paket C di PKBM Bina Insani, Kabupaten Konawe Utara. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif pra-eksperimental dengan desain satu kelompok pretest–posttest. Populasi berjumlah 30 warga belajar, sedangkan analisis melibatkan 17 warga belajar yang dipilih melalui purposive sampling. Hasil belajar diukur menggunakan soal pilihan ganda pada pretest dan posttest, dengan dokumentasi sebagai data pendukung. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji t sampel berpasangan pada taraf signifikansi 0,05. Nilai rata-rata meningkat dari 52,35 (rentang 23–73) sebelum perlakuan menjadi 70,41 (rentang 57–87) setelah perlakuan, atau naik 18,06 poin. Perbandingan berpasangan menunjukkan perbedaan yang signifikan (p < 0,001). Temuan menunjukkan skor IPS langsung yang lebih tinggi setelah pembelajaran didukung media audiovisual. Karena desain tidak menggunakan kelompok pembanding, pengaruh pengujian, pematangan, dan faktor lain tidak dapat dikesampingkan; hasil ini belum membuktikan kausalitas eksklusif. Media audiovisual dapat digunakan sebagai sumber belajar pelengkap pada Program Paket C, sedangkan penelitian berikutnya perlu menggunakan kelompok kontrol, sampel lebih besar, instrumen tervalidasi, ukuran efek, dan posttest tertunda.
Copyrights © 2026