Remaja laki-laki kerap menginternalisasi norma maskulinitas kaku yang menempatkan ekspresi emosi sebagai bentuk kelemahan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa laki-laki mengenai maskulinitas sehat dan ekspresi emosi adaptif di sekolah berasrama. Asesmen kebutuhan dilakukan melalui observasi, wawancara, kuesioner awal, analisis prioritas Metode Bryant, dan analisis SWOT. Sebanyak 16 siswa laki-laki kelas 7 dan 8 mengikuti satu sesi psikoedukasi bertajuk “Menjadi Laki-Laki yang Keren dan Sehat Secara Emosional”. Materi mencakup sosialisasi gender, kesadaran emosi, maskulinitas sehat, regulasi emosi, dan komunikasi asertif. Evaluasi program menggunakan analisis gain score secara deskriptif dengan membandingkan skor pretest dan posttest, serta didukung oleh catatan observasi proses. Rerata posttest lebih tinggi 0,13 poin daripada rerata pretest, yang menunjukkan kecenderungan awal peningkatan pemahaman setelah kegiatan. Catatan proses juga memperlihatkan partisipasi positif selama diskusi, meskipun perhatian dan keterbukaan peserta belum merata. Temuan ini merupakan gambaran awal perubahan dan bukan kesimpulan inferensial mengenai efektivitas program. Program lanjutan perlu dilaksanakan dalam beberapa sesi dengan latihan interaktif, diskusi sebaya, dan evaluasi berkala agar literasi emosional siswa berkembang lebih berkelanjutan.
Copyrights © 2026