Pelayanan kefarmasian di rumah sakit saat ini tidak hanya berorientasi pada penyerahan obat, tetapi juga mencakup penyampaian informasi obat secara lengkap dan jelas kepada pasien. Peran apoteker dalam memberikan informasi obat menjadi krusial karena dapat memengaruhi pemahaman pasien terhadap terapi serta tingkat kepuasan terhadap pelayanan yang diterima. Hal ini semakin penting pada pasien BPJS yang umumnya menghadapi keterbatasan waktu pelayanan akibat tingginya jumlah kunjungan di instalasi farmasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungann antara penyampaian informasi obat oleh apoteker dengan tingkat kepuasan pasien BPJS di Instalasi Farmasi Rawat Jalan RSUD Ciamis. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain analitik cross-sectional. Sebanyak 100 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai kriteria yang telah ditetapkan. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terkait penyampaian informasi obat dan tingkat kepuasan pasien berdasarkan dimensi SERVQUAL. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden telah menerima informasi dasar obat, seperti nama, indikasi, dosis, dan cara penggunaan, dengan persentase yang tinggi. Namun, informasi mengenai efek samping dan interaksi obat masih belum disampaikan secara optimal. Tingkat kepuasan pasien secara umum berada pada kategori puas. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungann yang signifikan antara penyampaian informasi obat dengan kepuasan pasien (p > 0,05), dengan kekuatan hubungann yang sangat lemah. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kualitas komunikasi dan edukasi obat serta evaluasi terhadap faktor lain yang dapat memengaruhi kepuasan pasien guna meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian.
Copyrights © 2026