Perkembangan kesehatan digital membuka peluang bagi apotek komunitas untuk memperluas pelayanan kefarmasian dan keterlibatan pelanggan. Namun, bukti yang menghubungkan penerapan telefarmasi dengan indikator kinerja bisnis apotek masih terbatas. Mengembangkan model konseptual awal wirausaha farmasi berbasis telefarmasi melalui komunitas digital dan mendeskripsikan perubahan kinerja penjualan swamedikasi di Apotek Asri Farma Kendal. Penelitian deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus ini dilaksanakan pada April–Juni 2026. Lima informan dua apoteker, dua tenaga vokasi farmasi, dan pemilik sarana apotek dipilih secara purposif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi penjualan. Analisis tematik dipadukan dengan perbandingan deskriptif indikator bisnis sebelum implementasi (Januari–Maret 2026) dan sesudah implementasi (April–Juni 2026). Model terdiri atas lima komponen, yaitu pemanfaatan platform digital, konsultasi kefarmasian daring, pelayanan swamedikasi berorientasi pasien, pengelolaan komunitas digital, dan evaluasi kinerja bisnis. Implementasi model diikuti peningkatan omzet bulanan swamedikasi sebesar 20% (Rp10.000.000 menjadi Rp12.000.000), transaksi sebesar 20% (200 menjadi 240), penambahan 30 pelanggan digital, dan peningkatan pelanggan yang melakukan pembelian ulang sebesar 37,5% (40 menjadi 55). Rerata nilai transaksi tetap Rp50.000. Model telefarmasi berasosiasi secara deskriptif dengan peningkatan frekuensi transaksi dan omzet. Karena penelitian menggunakan satu lokasi tanpa kelompok pembanding, hasil tidak membuktikan hubungan sebab-akibat dan perlu dikonfirmasi melalui penelitian yang lebih besar.
Copyrights © 2026