Sri Suwarni
Prodi S1 Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Nusaputera

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STRATEGI PEMASARAN DIGITAL BERBASIS SOSTAC PADA APOTEK ENGGAL WARAS UNTUK MENDUKUNG OMZET DAN PROSPEK BISNIS Mitha Maurin Heriyanti; Zara Dwi Febriani; Sri Suwarni; Ferika Indrasari
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/9fz4bc10

Abstract

Pemasaran digital memberi peluang bagi apotek independen untuk memperluas akses layanan dan komunikasi dengan pelanggan, tetapi penerapannya harus menjaga ketepatan informasi stok serta mematuhi regulasi kefarmasian. Menganalisis strategi pemasaran digital berbasis SOSTAC pada Apotek Enggal Waras dan kontribusi yang dipersepsikan terhadap omzet serta prospek bisnis. Penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus ini dilaksanakan di Apotek Enggal Waras, Semarang, pada Juni–Agustus 2026. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan penelusuran catatan omzet penjualan. Informan kunci meliputi Apoteker Pengelola Apotek, tenaga kefarmasian, tenaga hubungan masyarakat/pemasaran digital, dan 30 pelanggan aktif. Data dianalisis menggunakan kerangka SOSTAC dan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña; kredibilitas data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Apotek memanfaatkan Instagram, Facebook, WhatsApp Business, Google Business Profile, Shopee, Tokopedia, TikTok, dan Halodoc. Analisis SOSTAC menunjukkan penggunaan komunikasi edukasi dan promosi multikanal, supervisi apoteker, pembaruan stok berkala, serta pemantauan interaksi, respons pelanggan, perkembangan omzet, ketepatan stok, dan kepatuhan regulasi. Wawancara dan dokumen mengindikasikan kontribusi yang dipersepsikan terhadap jangkauan pelanggan, frekuensi transaksi, dan omzet, terutama pada obat bebas, suplemen, dan produk kesehatan. Namun, penelitian tidak menyajikan estimasi numerik omzet sebelum dan sesudah penerapan strategi. SOSTAC menyediakan kerangka terstruktur untuk pengelolaan pemasaran digital apotek. Kontribusinya terhadap omzet perlu dimaknai sebagai temuan kualitatif dan dikonfirmasi melalui penelitian kuantitatif.
PENGEMBANGAN MODEL KONSEPTUAL WIRAUSAHA FARMASI BERBASIS TELEFARMASI DAN KINERJA PENJUALAN SWAMEDIKASI DI APOTEK ASRI FARMA KENDAL Syahrul Hidayat; Arina Aisyal Hani; Sri Suwarni; Ratna Wulandari
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/dyvt0z87

Abstract

Perkembangan kesehatan digital membuka peluang bagi apotek komunitas untuk memperluas pelayanan kefarmasian dan keterlibatan pelanggan. Namun, bukti yang menghubungkan penerapan telefarmasi dengan indikator kinerja bisnis apotek masih terbatas. Mengembangkan model konseptual awal wirausaha farmasi berbasis telefarmasi melalui komunitas digital dan mendeskripsikan perubahan kinerja penjualan swamedikasi di Apotek Asri Farma Kendal. Penelitian deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus ini dilaksanakan pada April–Juni 2026. Lima informan dua apoteker, dua tenaga vokasi farmasi, dan pemilik sarana apotek dipilih secara purposif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi penjualan. Analisis tematik dipadukan dengan perbandingan deskriptif indikator bisnis sebelum implementasi (Januari–Maret 2026) dan sesudah implementasi (April–Juni 2026). Model terdiri atas lima komponen, yaitu pemanfaatan platform digital, konsultasi kefarmasian daring, pelayanan swamedikasi berorientasi pasien, pengelolaan komunitas digital, dan evaluasi kinerja bisnis. Implementasi model diikuti peningkatan omzet bulanan swamedikasi sebesar 20% (Rp10.000.000 menjadi Rp12.000.000), transaksi sebesar 20% (200 menjadi 240), penambahan 30 pelanggan digital, dan peningkatan pelanggan yang melakukan pembelian ulang sebesar 37,5% (40 menjadi 55). Rerata nilai transaksi tetap Rp50.000. Model telefarmasi berasosiasi secara deskriptif dengan peningkatan frekuensi transaksi dan omzet. Karena penelitian menggunakan satu lokasi tanpa kelompok pembanding, hasil tidak membuktikan hubungan sebab-akibat dan perlu dikonfirmasi melalui penelitian yang lebih besar.