Ratna Wulandari
Prodi D3 Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Nusaputera

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENGEMBANGAN MODEL KONSEPTUAL WIRAUSAHA FARMASI BERBASIS TELEFARMASI DAN KINERJA PENJUALAN SWAMEDIKASI DI APOTEK ASRI FARMA KENDAL Syahrul Hidayat; Arina Aisyal Hani; Sri Suwarni; Ratna Wulandari
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/dyvt0z87

Abstract

Perkembangan kesehatan digital membuka peluang bagi apotek komunitas untuk memperluas pelayanan kefarmasian dan keterlibatan pelanggan. Namun, bukti yang menghubungkan penerapan telefarmasi dengan indikator kinerja bisnis apotek masih terbatas. Mengembangkan model konseptual awal wirausaha farmasi berbasis telefarmasi melalui komunitas digital dan mendeskripsikan perubahan kinerja penjualan swamedikasi di Apotek Asri Farma Kendal. Penelitian deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus ini dilaksanakan pada April–Juni 2026. Lima informan dua apoteker, dua tenaga vokasi farmasi, dan pemilik sarana apotek dipilih secara purposif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi penjualan. Analisis tematik dipadukan dengan perbandingan deskriptif indikator bisnis sebelum implementasi (Januari–Maret 2026) dan sesudah implementasi (April–Juni 2026). Model terdiri atas lima komponen, yaitu pemanfaatan platform digital, konsultasi kefarmasian daring, pelayanan swamedikasi berorientasi pasien, pengelolaan komunitas digital, dan evaluasi kinerja bisnis. Implementasi model diikuti peningkatan omzet bulanan swamedikasi sebesar 20% (Rp10.000.000 menjadi Rp12.000.000), transaksi sebesar 20% (200 menjadi 240), penambahan 30 pelanggan digital, dan peningkatan pelanggan yang melakukan pembelian ulang sebesar 37,5% (40 menjadi 55). Rerata nilai transaksi tetap Rp50.000. Model telefarmasi berasosiasi secara deskriptif dengan peningkatan frekuensi transaksi dan omzet. Karena penelitian menggunakan satu lokasi tanpa kelompok pembanding, hasil tidak membuktikan hubungan sebab-akibat dan perlu dikonfirmasi melalui penelitian yang lebih besar.