The makan beradab tradition is an integral part of the Malay traditional wedding ceremony in Langkat Regency and serves as a medium for transmitting cultural values through a series of symbolic practices. However, social and cultural changes brought about by modernization have increasingly led this tradition to be perceived merely as a ceremonial procession, while the symbolic meanings embedded in each stage have gradually diminished, particularly among younger generations. This phenomenon highlights the need for an in-depth study to uncover the symbolic meanings preserved within the makan beradab tradition as an effort to preserve Malay cultural heritage. This study aims to describe the denotative, connotative, and mythical meanings represented in the makan beradab tradition of the Malay traditional wedding ceremony in Langkat Regency based on Roland Barthes' semiotic theory. This research employed a qualitative approach using a cultural semiotic study design. Data were collected through observations, interviews with Malay traditional leaders and other informants knowledgeable about the makan beradab tradition, documentation, and a literature review. The data were analyzed using the qualitative data analysis model proposed by Miles, Huberman, and Saldaña, combined with Roland Barthes' concepts of denotation, connotation, and myth. The findings reveal that every stage of the makan beradab tradition embodies symbolic meanings associated with responsibility, cooperation, affection, respect, mutual care, gratitude, and family harmony. Furthermore, these meanings have evolved into cultural myths that are transmitted across generations as moral guidelines for building harmonious family life in accordance with Malay cultural values. Therefore, the makan beradab tradition should not merely be regarded as a component of the wedding ceremony but also as a medium for transmitting cultural values and strengthening the cultural identity of the Malay community in Langkat Regency. ABSTRAK Tradisi makan beradab merupakan salah satu rangkaian penting dalam upacara pernikahan adat Melayu di Kabupaten Langkat yang sarat dengan makna simbolik dan berfungsi sebagai media pewarisan nilai-nilai budaya. Namun, perkembangan modernisasi dan perubahan pola pikir masyarakat menyebabkan tradisi ini semakin sering dipahami hanya sebagai bagian dari prosesi seremonial, sementara makna simbolik yang terkandung dalam setiap tahapannya mulai mengalami pendangkalan, terutama di kalangan generasi muda. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kajian yang mampu mengungkap kembali makna simbolik yang terkandung dalam tradisi makan beradab sebagai upaya pelestarian budaya Melayu. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna denotatif, konotatif, dan mitos pada tradisi makan beradab dalam upacara pernikahan adat Melayu di Kabupaten Langkat berdasarkan teori semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi semiotika budaya. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan tokoh adat dan informan yang memahami tradisi makan beradab, dokumentasi, serta studi pustaka. Data dianalisis menggunakan model analisis Miles, Huberman, dan Saldaña yang dipadukan dengan konsep denotasi, konotasi, dan mitos Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahapan dalam tradisi makan beradab mengandung makna simbolik yang merepresentasikan nilai tanggung jawab, kerja sama, kasih sayang, penghormatan, kepedulian, rasa syukur, dan keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga. Makna-makna tersebut selanjutnya membentuk mitos budaya yang diwariskan secara turun-temurun sebagai pedoman moral masyarakat Melayu dalam membangun keluarga. Dengan demikian, tradisi makan beradab tidak hanya berfungsi sebagai rangkaian upacara pernikahan, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai budaya dan penguatan identitas masyarakat Melayu di Kabupaten Langkat.
Copyrights © 2026