Kebijakan kerja jarak jauh (Work From Anywhere/WFA) mulai diadopsi oleh lini back office industri manufaktur di Kabupaten Karawang yang secara historis dikenal memiliki budaya kerja fisik yang kaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam konstruksi makna produktivitas kerja dan komitmen organisasi bagi pekerja Generasi Z yang menjalani skema kerja fleksibel tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan instrumen kuesioner terstruktur terhadap enam informan Generasi Z dari enam perusahaan manufaktur berbeda di Karawang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas kerja dimaknai secara positif sebagai peningkatan fokus kualitas hasil kerja (deep work) dan otonomi tindakan tanpa supervisi fisik melekat. Ketepatan waktu diwujudkan melalui respon berkecepatan tinggi dalam hitungan menit terhadap instruksi darurat demi mencegah waktu henti (downtime) pabrik. Dari dimensi komitmen organisasi, skema WFA terbukti menjaga kedekatan emosional (afektif), menjadi instrumen retensi berharga tinggi yang meminimalkan niat berpindah kerja (kontinuan), serta menumbuhkan rasa tanggung jawab moral resiprokal untuk menjaga performa kerja (normatif). Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa otonomi ruang privat tidak mengendurkan loyalitas maupun kinerja, melainkan memicu efektivitas kendali mutu mandiri. Implikasinya, manajemen manufaktur disarankan mempercepat digitalisasi sistem administrasi fisik guna menyinkronkan alur dokumen dengan operasional kerja jarak jauh secara mulus. onize document workflows with remote working operations.
Copyrights © 2026