Era digital telah membawa perubahan fundamental dalam sistem pendidikan Islam, khususnya pada madrasah sebagai lembaga pendidikan. Penelitian ini menganalisis tiga dimensi sosiologis utama dalam dinamika pendidikan Islam di era digital: transformasi kultural, aksesibilitas, dan tantangan teknologi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif analitik dengan teknik kajian literatur (library research), penelitian ini menemukan bahwa transformasi digital telah menggeser otoritas guru dari sentralisme pengetahuan menuju peran dialogis-fasilitatif, namun berisiko menimbulkan kedangkalan pemahaman agama akibat melemahnya proses talaqqi. Kesenjangan digital menjadi fakta sosial baru di madrasah, tercermin dari ketimpangan anggaran yang mencolok antara sekolah umum (Rp10 triliun) dan madrasah (Rp81 miliar), serta disparitas kesejahteraan guru yang memprihatinkan. Hambatan integrasi teknologi meliputi keterbatasan infrastruktur, rendahnya literasi digital pendidik, dan resistensi kultural. Penelitian ini merekomendasikan strategi integrasi AI secara selektif dengan kerangka etik TAQIT (Tabayyun, Akhlāq, 'Aql, Amanah, Taqwā) dan Maqāṣid al-Sharī'ah, serta pendekatan holistik yang menggabungkan pengembangan infrastruktur, pelatihan guru berkelanjutan, dan desain kurikulum digital adaptif tanpa kehilangan identitas Islami.
Copyrights © 2026