Status tanpa dokumen yang dimiliki anak-anak migran Indonesia di Malaysia membuat mereka terpinggirkan dari sekolah formal setempat dan membatasi kesempatan mengembangkan keterampilan nonakademik, terutama keberanian berbicara di depan umum. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan bersama Sanggar Bimbingan (SB) At-Tanzil di Serdang, Selangor, Malaysia, dengan peserta dari tingkat taman kanak-kanak hingga SMP yang belajar bersama dalam satu aula tanpa pembatas. Melalui pelatihan "Belajar Berani Berbicara di Depan Umum", siswa dikenalkan pada konsep dasar percaya diri, dibantu menyusun naskah perkenalan diri, lalu bergiliran tampil di depan kelas dimulai dalam kelompok kecil sebelum tampil sendiri. Pendampingan individual dan suasana kelas yang mendukung dipakai untuk menjembatani perbedaan tingkat percaya diri dan literasi antar peserta. Di akhir sesi, semua siswa berhasil menyelesaikan naskah perkenalan mereka secara terstruktur; sebagian besar bahkan mampu tampil di depan teman dengan mengendalikan gugup dan berbicara dengan artikulasi cukup jelas. Perubahan ini menunjukkan bahwa latihan komunikasi yang terstruktur, bila dilakukan secara hangat dan bertahap, efektif menumbuhkan rasa percaya diri pada anak-anak migran yang rentan terpinggirkan dari sistem pendidikan.
Copyrights © 2026