Shivering pasca anestesi spinal dapat meningkatkan kebutuhan metabolik, konsumsi oksigen, ketidaknyamanan, dan risiko keterlambatan pemulihan. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas kombinasi blanket warmer dan terapi cairan infus hangat terhadap penurunan derajat shivering pada pasien pasca anestesi spinal.Penelitian menggunakan desain pre-eksperimental one-group pretest-posttest pada 35 pasien di ruang pemulihan RSUD Cicalengka. Sampel direkrut shivering menggunakan teknik sampling konsekutif hingga jumlah sampel terpenuhi. Blanket warmer dan cairan infus hangat diberikan secara bersamaan selama 45 menit. Derajat dinilai menggunakan skala Crossley dan Mahajan pada sebelum intervensi serta menit ke-15, ke-30, dan ke-45; suhu tubuh diukur sebelum dan sesudah intervensi. Analisis menggunakan uji Wilcoxon dan Friedman. Sebelum intervensi, derajat shivering terbanyak adalah derajat 3 (54,3%) dan derajat 4 (31,4%). Pada menit ke-30, 80,0% pasien mencapai derajat 0, dan pada menit ke-45 seluruh pasien (100%) tidak mengalami shivering. Suhu tubuh meningkat dari 35,27 ± 0,24°C menjadi 36,07 ± 0,23°C (p<0,001). Uji Friedman menunjukkan perubahan derajat shivering yang bermakna antarwaktu pengukuran (χ²=100,361; df=3; p<0,001). Kombinasi blanket warmer dan terapi cairan infus hangat diikuti penurunan progresif derajat shivering dan peningkatan suhu tubuh pada pasien pasca anestesi spinal. Temuan perlu dikonfirmasi melalui penelitian dengan kelompok kontrol dan pengendalian faktor perancu
Copyrights © 2026