Penelitian ini mengkaji persepsi geografis dan proses pengambilan keputusan mahasiswa asal Kabupaten Natuna dalam memilih Universitas Tanjungpura (UNTAN) sebagai tempat melanjutkan studi. Sebagai kabupaten kepulauan terluar yang hanya memiliki satu perguruan tinggi berbasis keagamaan, Natuna mendorong lulusan yang ingin menempuh bidang non-keagamaan untuk merantau. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap mahasiswa aktif, orang tua, dan alumni, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang didukung triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi geografis mahasiswa terbentuk melalui tujuh konsep keruangan, yaitu lokasi, jarak, keterjangkauan, aglomerasi, nilai kegunaan, interaksi dan interdependensi, serta diferensiasi area, dengan diferensiasi area dan nilai kegunaan muncul sebagai pertimbangan paling kuat karena Pontianak menawarkan program studi dan status kelembagaan yang tidak tersedia di Natuna. Pengambilan keputusan berlangsung melalui lima tahap, yaitu penetapan tujuan, pengumpulan informasi, pembentukan minat, pemilihan alternatif terbaik, dan kepuasan, yang masing-masing dipengaruhi pertimbangan keruangan seperti biaya perjalanan, ketersediaan transportasi, dan dukungan keluarga. Penelitian ini menegaskan pengaruh kondisi geografis wilayah kepulauan dan tertinggal terhadap mobilitas pendidikan tinggi mahasiswa dari daerah perbatasan dan kepulauan.
Copyrights © 2026