Penelitian ini mengkaji konstruksi historis dan fungsi sakral Tari Kupu-Kupu Kuning di Karangasem sebagai media pembentukan identitas budaya. Kajian mengenai tari sakral Bali umumnya menitikberatkan pada aspek koreografi, fungsi ritual, dan nilai estetika, sementara keterkaitan antara narasi sejarah, legitimasi kekuasaan, dan praktik pelestarian kontemporer masih relatif terbatas dibahas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi historis tarian dalam narasi ekspedisi Lombok Kerajaan Karangasem, mengkaji fungsi sakralnya dalam praktik ritual, serta menjelaskan perannya dalam transmisi identitas budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain historis-etnografis. Data diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap buku-buku sejarah yang memuat interpretasi teks babad, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan penari, serta observasi partisipatif pada hari raya Umanis Kuningan di Pura Puseh Desa Adat Dukuh Penaban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarian ini berakar pada narasi ekspedisi Lombok Kerajaan Karangasem yang kemudian mengalami proses sakralisasi menjadi pertunjukan ritual yang memuat simbol legitimasi ilahi dan perlindungan spiritual. Dalam praktik kontemporer, tarian berfungsi sebagai medium reproduksi memori kolektif dan transmisi identitas budaya lintas generasi. Penelitian ini menegaskan bahwa Tari Kupu-Kupu Kuning merupakan sistem simbolik yang mengintegrasikan sejarah, sakralitas, dan pendidikan budaya dalam kehidupan masyarakat.
Copyrights © 2026