cover
Contact Name
Cahya Yuana
Contact Email
editorsendikraf@mail.com
Phone
+6287739836417
Journal Mail Official
sendikrafjurnal@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kaliurang Km. 12,5 Klidon, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581 elepon (0274) 895803, 895804, 895805
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
ISSN : 27463605     EISSN : 30631734     DOI : https://doi.org/10.70571/PSIK
Core Subject : Education, Art,
Sendikraf adalah jurnal akademik, akses terbuka, dan peer-review. Diterbitkan pertama kali pada bulan November 2020 oleh BBPPMPV Seni dan Budaya yang merupakan unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia. BBPPMPV Seni dan Budaya bertugas meningkatkan kompetensi guru pendidikan vokasi dan melaksanakan penjaminan mutu pendidikan vokasi. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Mei dan November. Memuat artikel-artikel baik yang berbasis penelitian maupun kajian non-penelitian serta gagasan-gagasan konseptual dalam bidang pendidikan seni dan industri kreatif. Pengiriman artikel terbuka sepanjang tahun. Sebelum mengirimkan artikel, harap pastikan artikel tersebut sesuai dengan fokus dan gaya Sendikraf. Pedoman dan tata cara penyerahan dapat diakses lebih lanjut pada bagian penyerahan online.
Articles 133 Documents
“ARKANTI”: KONVENSI TEATER PANGGUNG DALAM PERTUNJUKAN VIRTUAL TEATER KOMA Surya Farid Sathotho
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 3 No. 2 (2022): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v3i2.10

Abstract

ABSTRACT The current study aims to prove the conventions of stage theater in the virtual performance of “Arkanti” by Teater Koma. Virtual performances were conducted by Teater Koma to continue producing art works during the Covid-19 pandemic. Conventions of realism theater are used to further observe stage idioms in the performance. An understanding of technical matters in a theatrical performance is also considered which include acting patterns, scenes, staging, wardrobe, make-up, and lighting. The elements are analyzed to see how they differ from films. Virtual performance of “Arkanti” is used as a research sample with the consideration that as a virtual performance produced by Teater Koma, it may represent various types of widespread online theater performances during the pandemic time of Covid-19. The results of the study demonstrate that the performance texture of “Arkanti” tends to be similar with theatrical performance on stage. The style of acting, stage layout, and lighting design show the concept of the stage performance. The use of camera as an intermediate medium is not intended to remove stage imagery.  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan konvensi teater panggung dalam pertunjukan virtual “Arkanti” oleh Teater Koma. Pertunjukan virtual dilakukan oleh Teater Koma untuk tetap berkarya selama masa pandemi Covid-19. Konvensi teater realisme dipergunakan untuk melihat lebih lanjut idiom-idiom panggung dalam pementasan dimaksud. Pemahaman tentang hal-hal yang bersifat teknis dalam sebuah pertunjukan teater juga dipergunakan sebagai pertimbangan, di antaranya pola pemeranan, pengadeganan, tata pentas, tata busana, tata rias maupun tata cahaya. Unsur-unsur tersebut dicermati untuk memperlihatkan perbedaannya dengan film. Pementasan virtual “Arkanti” digunakan sebagai sampel penelitian dengan pertimbangan bahwa pertunjukan virtual produksi Teater Koma dapat mewakili berbagai jenis pertunjukan teater secara daring yang marak selama masa Pandemi Covid-19. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tekstur pementasan “Arkanti” memiliki kecenderungan sebagaimana sebuah pementasan teater di atas panggung. Gaya berperan, tata panggung dan tata cahaya menunjukkan konsep pertunjukan di atas panggung. Penggunaan kamera sebagai media perantara tidak dimaksudkan untuk menghilangkan citra panggung.
PENGUASAAN KOMPETENSI KRIYA KERAMIK PASCA PELATIHAN DALAM TINJAUAN FASET PEMAHAMAN WIGGINS DAN TIGHE Rohmat Sulistya
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 4 No. 2 (2023): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v4i2.43

Abstract

Teachers attain a higher level of competency after participating in training. However, due to the short duration of training, not all aspects of competence are fully mastered by teachers. An effective strategy is needed to complement the lacking aspects of competence. This study aims to provide an overview of the mastery of competencies among teachers specializing in ceramic craft after training and how the concept of understanding according to Wiggins and Tighe is used to map the aspects of competencies that should be learned to achieve complete mastery. The research method involves reviewing journal references and books, supported by objective observations of several participating teachers.The results indicate that the mastery of competencies (both hard and soft skills) during training serves as a solid foundation, which can then be supplemented with self-directed learning strategies using the self-determined learning approach as a logical choice in the learning process. To facilitate the in-depth understanding of specific competency aspects, a mapping of competency aspects is proposed using the 6 (six) facets of understanding according to Wiggins and Tighe. This approach is alternative, allowing teachers to determine which facets to focus on based on their interests, characteristics, and academic arguments. Keywords: competency mastery, ceramic craft, post-training, understanding, Wiggins and Tighe ABSTRAK Guru memiliki level kompetensi yang lebih tinggi pascapelatihan yang diikuti. Tetapi dengan durasi pelatihan yang pendek, tidak seluruh aspek kompetensi dikuasai secara utuh oleh guru. Diperlukan strategi yang efektif untuk melengkapi aspek-aspek kompetensi yang kurang. Kajian ini bertujuan memberikan gambaran penguasaan kompetensi guru konsentrasi keahlian kriya keramik pascapelatihan dan bagaimana konsep pemahaman (understandings) menurut Wiggins dan Tighe digunakan untuk memetakan aspek-aspek kompetensi yang sebaiknya dipelajari agar diperoleh penguasaan kompetensi utuh. Metode kajian menggunakan telusur referensi jurnal dan buku diperkuat dengan pengamatan objektif kepada beberapa guru peserta pelatihan. Hasil kajian menunjukkan penguasaan kompetensi (hardskill dan softskill) selama diklat menjadi bekal yang baik untuk kemudian dilengkapi dengan strategi belajar mandiri sesuai pendekatan pembelajaran self-determined learning sebagai pilihan logis dalam belajar. Untuk memudahkan aspek-aspek kompetensi yang perlu diperdalam, diajukan pemetaan aspek kompetensi untuk dikuasai dengan pendekatan 6 (enam) faset pemahaman menurut Wiggins dan Tighe. Pendekatan ini bersifat alternatif, guru dapat menetapkan faset-faset mana yang dipilih sesuai kepentingan, karakter, dan argumentasi akademisnya. Kata kunci: penguasaan kompetensi, kriya keramik, pascapelatihan, pemahaman, Wiggins dan Tighe
PENGGLASIRAN BENDA KERAMIK: PENERAPAN SELF-DETERMINED LEARNING Rohmat Sulistya
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 3 No. 1 (2022): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v3i1.45

Abstract

ABSTRACT Ceramics glazing is a unique subject because this subject contains both of art and science that are quite deep. Aspects of art are related to ceramic art, while science is related to chemistry, mathematics, and physics. This learning material is quite complex and requires a lot of effort to master. In the curriculum (K13 and Kurikulum Merdeka), this material is studied as a minor competence to support the major competence of Pembentukan Keramik. As a result, teachers' mastery in glazing and how it’s been tought face limitations. While in industry, glazing is an important determinant of final ceramic products. The development of ceramic products is currently more determined by the quality of the glaze rather than its shape. This study aims to describe aspects related to ceramic glazing learning and to propose a logical learning method so that this material is mastered well. The results of the study show that the position of this material in the curriculum is not strong enough to be studied comprehensively while this material contains the fundamentals of glaze theory that must be studied properly and intact. Limited training opportunities for teachers and the duration of the training make self-determined learning as a logical choice to systematically learn this subject. The success keys of this learning approach are mindset change in self-studying, use of reliable learning management system, and increasing self-motivation to study. Keywords: glazing, ceramic, self-determined learning. ABSTRAK Materi pengglasiran benda keramik adalah materi yang unik karena pada materi ini termuat aspek seni dan sains yang cukup dalam. Aspek seni berkaitan dengan seni kriya keramik, sedangkan sains berkaitan dengan kimia, matematika, dan fisika. Materi ini cukup kompleks dan memerlukan usaha keras untuk menguasainya. Di dalam kurikulum (K13 dan Kurikulum Merdeka), materi ini dipelajari sebagai kompetensi minor untuk mendukung kompetensi mayor Pembentukan Keramik. Akibatnya, penguasaan guru akan materi pengglasiran yang kompleks dan usaha pembelajarannya menghadapi keterbatasan. Sementara di dunia industri, pengglasiran adalah penentu penting pada produk akhir keramik. Pengembangan produk keramik saat ini lebih ditentukan oleh kualitas pengglasiran daripada bentuk benda. Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aspek-aspek yang terkait dengan pembelajaran materi pengglasiran benda keramik dan menggagas metode pembelajaran yang logis agar materi ini dikuasai dengan baik. Hasil kajian menunjukkan posisi materi ini pada kurikulum kurang cukup kuat untuk dipelajari secara komprehensif, padahal materi ini memuat fundamen teori glasir yang harus dipelajari dengan baik dan utuh. Dengan keterbatasan kesempatan diklat bagi guru dan durasi diklat, self-detemined learning dapat menjadi pilihan logis untuk menguasai materi ini secara sistematis. Perubahan mindset untuk belajar mandiri, dukungan learning management system, dan penumbuhan motivasi diri untuk belajar menjadi kunci keberhasilan pendekatan pembelajaran ini. Kata kunci: pengglasiran, benda keramik, self-determined learning
MANAJEMEN PENGEMASAN SKEMA OKUPASI PADA LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI PIHAK KEDUA DI BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN VOKASI SENI DAN BUDAYA Haryadi Purnomo Raharjo
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 4 No. 2 (2023): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v4i2.52

Abstract

The occupational certification scheme is a certification based on a work position in an industrialsystem that has been determined nationally. The occupational certification scheme was initiatedin response to the dynamics of industrial needs. The occupational certification scheme is an effortto connect the world of education with the real needs of industry. As an effort to align vocationaleducation with the needs of the world of work, the preparation of this scheme was carried outwith collaboration and active participation from various related parties. This occupationalcertification scheme is not only intended to increase the competitiveness of teachers andvocational education personnel, but also an effort to increase the opportunities for vocationaleducation graduates entering the job market in ease. In order to gain the recognition ofcompetency, the seamless implementation of competency certification, and references fordeveloping training curricula; the determination of the occupational set for arts and cultureteachers and vocational education staff is highly important and strategic. In order to arrangethis occupational scheme set, a management process is needed to integrate several groups ofactivities that are integrally related into occupational set. Skema sertifikasi okupasi adalah sertifikasi yang berdasarkan suatu jabatan kerja pada sistemindustri yang sudah ditetapkan secara nasional. Skema sertifikasi okupasi diinisiasi sebagairespons terhadap dinamika kebutuhan industri. Skema sertifikasi okupasi sebagai upaya untukmenghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan riil industri. Sebagai upaya penyelarasanpendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia kerja, penyusunan skema ini dilakukan dengankolaborasi dan partisipasi aktif dari berbagai pihak terkait. Skema sertifikasi okupasi ini tidakhanya untuk meningkatkan daya saing guru dan tenaga kependidikan vokasi, tetapi juga upayameningkatkan peluang lulusan pendidikan vokasi agar lebih lancar dalam memasuki pasar kerjayang terus berkembang. Dalam rangka pengakuan kompetensi, kelancaran pelaksanaansertifikasi kompetensi dan acuan bagi pengembangan kurikulum pelatihan maka penetapanpengemasan okupasi bagi guru dan tenaga kependidikan vokasi bidang seni dan budaya sangatlahpenting dan strategis. Dalam menyusun pengemasan skema okupasi ini, perlu proses manajemenuntuk mengintegrasikan beberapa gugusan kegiatan yang berhubungan secara integral menjadikemasan okupasi.
TEATRIKALISME DALAM PEMENTASAN “PEMBERDAYAAN KESEJAHTERAAN KELUARGA” Eko Santosa
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 3 No. 2 (2022): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v3i2.53

Abstract

The purpose of this study is to reveal theatricalism in the staging of "Family Welfare Empowerment"produced by Teater Amarta Yogyakarta on October 23, 2022 in the Concert Hall Taman BudayaYogyakarta. The current study is based on the concept of theatricalism as an opponent of realism in theculture of Western modern theater with the characteristics formulated by McTigue and Cohen. The aspectsanalysed include play, staging, and acting. The results of the study demonstrate that the play has thepotentials of theatricalism in a series of events that are consciously constructed to direct the attention ofthe audience to the event of performances through directional texts and scenes, opportunities forimprovisation, as well as the use of language and terms in dialogue. The staging contains theatricalismcharacteristics in which the stage arrangement is presented in the style of symbolism and is supported bythe arrangement of theatrical scenes which sometimes invites the audience to become part of theperformance. The acting side shows that the actors do not only play the role as a character but also ashimself through the improvisation. Hence, it shows that the play, staging, and acting achieve thecharacteristics of theatricalism which is, at the same time, contrary to realism Tujuan kajian ini adalah menyingkap teatrikalisme dalam pementasan “Pemberdayaan KesejahteraanKeluarga” produksi Teater Amarta Yogyakarta pada tanggal 23 Oktober 2022 di Concert Hall TamanBudaya Yogyakarta. Kajian ini berpijak pada konsep teatrikalisme sebagai penentang realisme dalam kulturteater modern Barat dengan ciri-ciri rumusan McTigue dan Cohen. Aspek yang dikaji adalah lakon,pemanggungan, dan akting. Hasil kajian memperlihatkan bahwa lakon memiliki potensi teatrikalismedalam rangkaian peristiwa yang dikonstruksi secara sadar untuk mengarahkan perhatian penonton padaperistiwa pementasan melalui keterangan laku dan adegan, peluang improvisasi, serta penggunaan bahasadan istilah dalam dialog. Pemanggungan memuat ciri teatrikalisme di mana tata panggung disajikan dengangaya simbolisme dan didukung oleh penataan adegan teatrikal yang terkadang mengajak penonton menjadibagian dari pertunjukan. Sisi akting memperlihatkan bahwa para aktor tidak hanya memainkan peransebagai tokoh tetapi juga sebagai dirinya sendiri melalui improvisasi. Hal ini menunjukkan bahwa lakon,pemanggungan, dan akting memenuhi ciri teatrikalisme sekaligus bertolak belakang dengan realisme.
ASPEK EKSTRAMUSIKAL PADA PADUAN SUARA VOCALISTA ANGELS KLATEN Abraham Anton Febrindo Luwiga
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 3 No. 1 (2022): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v3i1.54

Abstract

In the choir, two essential aspects, namely intramusical and extramusical aspects, playimportant roles in developing someone’s ability of singing and doing his or her dancemovements. Intramusical aspects are attached with a person’s ability in producing andarticulating the tones properly and accurately. These aspects are also related to a person’sability to do movements flexibly in line with the tempo and the rhythm of the song.Extramusical aspects are related to one’s desire, motivation, and passion to follow the processof acquiring singing ability and doing dance movements (choralography). As a matter of fact,some choirs currently focus on simply building and developing intramusical aspects; hence,they do not take into account the extramusical aspects. The current qualitative research aimsat exploring how extramusical aspects or non-technical aspects have an effect on the abilityof singing and doing dance movement (choralography) in the choir. The results of the researchdemonstrate that parts of extramusical aspects such as physical exercise, environmentalexploration, management of emotion, and mental building, take part in manipulating one’sability in singing and doing dance movements, particularly in a choir. Dalam paduan suara, terdapat dua aspek penting yang memiliki peran yang cukup besar dalammembentuk kemampuan bernyanyi dan gerak tari seseorang, yaitu aspek intramusikal danekstramusikal. Aspek intramusikal berkaitan dengan kemampuan seseorang dalammemproduksi dan membunyikan nada dengan baik dan benar, dan dengan kemampuanseseorang dalam melakukan gerakan dengan luwes dan lentur sesuai dengan tempo atau ritmelagu yang dibawakan. Aspek ekstramusikal berkaitan dengan keinginan, motivasi dan tekaddari seseorang untuk berproses hingga memperoleh kemampuan bernyanyi dan gerak tari(choralography). Permasalahannya, saat ini banyak paduan suara yang hanya berfokus padamembangun dan mengembangkan aspek intramusikal saja dan mengesampingkan aspekekstramusikal. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk menelaah pengaruh aspekekstramusikal terhadap kemampuan bernyanyi dan gerak tari (choralography) dalam paduansuara. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa olah fisik, eksplorasi lingkungan, pemanfaatanemosi, dan pembentukan mental, yang merupakan bagian dari aspek ekstramusikal memilikipengaruh dalam membentuk kemampuan bernyanyi dan gerak tari seseorang, khususnyadalam paduan suara
SEMIOTIKA WAYANG BEBER PANCASILA: WAHANA KOMUNIKASI VISUAL UNTUK MENYAMPAIKAN PESAN VISUAL DAN PESAN VERBAL PANCASILA BAGI GENERASI Z Sumbo Tinarbuko
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 3 No. 2 (2022): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v3i2.55

Abstract

TThe current research aims at reading symbolic interaction of visual communication narratives inthe “Taferil of Wayang Beber Pancasila”. Research employing semiotics theory approach, visualcommunication semiotics theory, and visual communication design theory also seeks to find andunderstand the connotative meanings of visual and verbal signs as well as verbal messages andvisual messages in the ideological narrative of “Wayang Beber Pancasila”. It is an essential effortto build new civilization by practicing five principles of “Pancasila”. This kind of cultural workmust always be echoed in order to build an ideological basis for Generation Z in Indonesia. It isexpected that the results of the current research will contribute to some theoretical thoughts aswell as practical guidance for visual communication designers, reviewers, or researchers, for thedevelopment of visual communication design itself as a particular area of study or discipline Penelitian ini bertujuan membaca interaksi simbolik atas narasi komunikasi visual yang ada didalam taferil Wayang Beber Pancasila. Penelitian dengan pendekatan teori semiotika, teorisemiotika komunikasi visual, dan teori desain komunikasi visual ini juga berupaya untukmenemukan sekaligus memahami makna konotasi tanda visual dan tanda verbal, serta pesan verbaldan pesan visual pada narasi ideologis Wayang Beber Pancasila. Hal ini penting dilakukan dalamupaya membangun peradaban baru dengan mengamalkan kelima sila Pancasila. Kerja budayasemacam ini harus senantiasa didengungkan guna membangun landasan ideologis bagi Generasi Zdi Indonesia. Hasil penelitian diharapkan dapat menyumbangkan pemikiran teoretis sekaliguspanduan praktis bagi desainer komunikasi visual dan pengkaji atau peneliti komunikasi visual, demiperkembangan ilmu desain komunikasi visual itu sendiri.  
TAFSIR PERIODISASI GARA-GARA: ANALISIS PENGUBAHAN GARA-GARA DALAM EMPAT LAKON WAYANG KULIT Ikun Sri Kuncoro
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 3 No. 1 (2022): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v3i1.56

Abstract

“Gara-gara” is an important scene in the plot of shadow puppet plays. The diversity of playsperformed or documented in the written texts tends to result in a comparison study of the playswhich is based on the time or the period of the appearance of “gara-gara”. Time dimensionsof the appearance of “gara-gara” provide opportunities for the presence of similarities anddifferences. The current article puts forward the result of content analysis in a qualitativeresearch comparing and contrasting “gara-gara” of “Antasena Gugur” performed by KiSugino Siswocarito from Banyumas, “Gancaring Palasara”, a shadow puppet play fromSurakarta, “Bogadhenta Gugur” performed by Ki Hadi Sugito, and “Abimanyu Gugur”performed by Ki Timbul Cermomanggolo from Yogyakarta. The result of the content analysisdemonstrates that there is a tendency of creating differences through the alteration in “garagara” which hides the values of just a need to look different. Hence, the alteration of the coreof the pre-scene of the play and the composition of the “panakawan” in “gara-gara” can beinterpreted as a sign of periodization. “Gara-gara” is an important scene in the plot of shadow puppet plays. The diversity of playsperformed or documented in the written texts tends to result in a comparison study of the playswhich is based on the time or the period of the appearance of “gara-gara”. Time dimensionsof the appearance of “gara-gara” provide opportunities for the presence of similarities anddifferences. The current article puts forward the result of content analysis in a qualitativeresearch comparing and contrasting “gara-gara” of “Antasena Gugur” performed by KiSugino Siswocarito from Banyumas, “Gancaring Palasara”, a shadow puppet play fromSurakarta, “Bogadhenta Gugur” performed by Ki Hadi Sugito, and “Abimanyu Gugur”performed by Ki Timbul Cermomanggolo from Yogyakarta. The result of the content analysisdemonstrates that there is a tendency of creating differences through the alteration in “garagara” which hides the values of just a need to look different. Hence, the alteration of the coreof the pre-scene of the play and the composition of the “panakawan” in “gara-gara” can beinterpreted as a sign of periodization.
GARAP RICIKAN NGAJENG GENDING GAMBIRSAWIT PADA KARAWITAN GAYA SURAKARTA Yadi
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 3 No. 1 (2022): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v3i1.57

Abstract

“Gambirsawit” is one of the styles of Surakarta traditional music composed by SunanKalijaga at the time of the spreading of Islam. The song is taken from the song “PathetanWantah Laras Slendro Pathet Sanga”. In its development, there were some titles of various“gending” using “Gambirsawit” as the first name of the “gending”. The examples of thesongs in question are “Gambirsawit Pancerana” and “Gambirsawit Sembunggilang”. Thereare also two “gending” which shift the musical scale of “Gending Gambirsawit”, namely“Gending Malarsih Laras Slendro Pathet Manyura “and “Gending Prawan Pupur LarasPelog Pathet Barang”. In addition to having various names, “Gending Gambirsawit” in itspresentation also has various “garap” (creating composition of ”gending”), one of which is“garap ricikan ngajeng”. The aim of the current study is to find out and describe the musicalcomposition of “Gending Gambirsawit” in “ricikan ngajeng” of Surakarta style “karawitan”.Qualitative research method was applied to analyze data collected through literature study,interviews, observation, and listening to “gending” recordings. The results of the study arepresented in the description of “garap” (musical composition) of “ricikan ngajeng GendingGambirsawit” including musical composition or “garap” of “rebab”, “kendang”, “gender”,and vocal. “Garap” on “ricikan ngajeng” can be performed in the presentation of “GendingGambirsawit” for musical concerts, “pakeliran” accompaniment, and dance accompaniment.Keywords: musical composition (“garap”), “gending”, “Gambirsawit”, “karawitan”.ABSTRAKGambirsawit merupakan salah satu gending tradisi gaya Surakarta yang disusun oleh SunanKalijaga pada saat menyebarkan agama Islam. Gending ini diambil dari lagu Pathetan WantahLaras Slendro Pathet Sanga. Dalam perkembangannya, muncul beraneka ragam namagending yang menggunakan Gambirsawit sebagai nama awal dari gending tersebut. Contohgending-gending yang dimaksud adalah Gending Gambirsawit Pancerana dan GendingGambirsawit Sembunggilang. Selain itu, ada dua gending yang oleh para pengrawit disebutsebagai alih laras dari Gending Gambirsawit. Gending tersebut adalah Gending MalarsihLaras Slendro Pathet Manyura dan Gending Prawan Pupur Laras Pelog Pathet Barang.Selain memiliki berbagai nama, Gending Gambirsawit juga memiliki berbagai garap dalampenyajiannya; salah satunya adalah garap ricikan ngajeng. Tujuan penelitian ini adalah untukmenemukan dan mendeskripsikan garap musikal Gending Gambirsawit pada ricikan garapngajeng karawitan gaya Surakarta. Metode kualitatif deskriptif digunakan dalam penelitian iniuntuk mengolah data yang dikumpulkan melalui studi pustaka, wawancara terhadap tokohtokoh bidang karawitan, pengamatan sajian kelompok-kelompok karawitan, dan denganmendengarkan hasil rekaman. Hasil penelitian berupa deskripsi garap musikal GendingGambirsawit ricikan ngajeng yang meliputi garap instrumen rebab, kendang, gender, dan garap vokal. Garap tersebut dapat ditampilkan dalam penyajian Gending Gambirsawit untukkonser karawitan, iringan pakeliran, dan iringan tari.Kata kunci: garap, gending, Gambirsawit, karawitan.
HUBUNGAN KEMAMPUAN LITERASI VISUAL SISWA SMK DENGAN HASIL PENCIPTAAN KARYA PADA KOMPETENSI PEREKAMAN GAMBAR TELEVISI NONDRAMA SINGLE CAMERA Sandi Erlan Rismaya
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 3 No. 1 (2022): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v3i1.58

Abstract

Work creation is an activity that requires complex abilities. There are three importantcomponents in the process of creating work, namely the work that is created, the person whocreates the work, and the viewers. The visual literacy ability of students as a crew, either asan individual or as a group, has not supported the process of recording nondrama televisionimages using a single camera whereas visual literacy ability is a continuous bridge from onecompetency to another, or from one step to the next one. Correlation study was applied to findthe relationship between one variable and another variable. Causal associative researchdesign was used to identify the correlation of vocational high school students’ visual literacyability and the results of their work creation. Quantitative approach in this study emphasizesthe analysis of numerical data processed by statistical method with the following hypothesis:There is a positive and significant correlation between visual literacy ability of vocationalhigh school students and the results of their creation of works in the competence of non-dramatelevision image recording using single camera. The result of data analysis demonstrates thatthe regression equation Y= 68.09β + 0.478× which means that for every 1 point increase instudents' visual literacy skills, there will be an increase in work creation results of 0.478points. This is strengthened by the result of the determination test of 50.4 % indicating thatstudents' visual literacy ability affects the results of the creation of works Penciptaan karya merupakan kegiatan yang memerlukan kemampuan kompleks. Ada tigakomponen penting dalam proses penciptaan karya, yaitu karya, pekarya, dan khalayak.Kemampuan literasi visual siswa sebagai seorang crew, baik sebagai individu maupunkelompok, pada kenyataannya belum menunjang proses perekaman gambar televisi nondramadengan single camera, padahal kemampuan literasi visual menjadi jembatan yangberkesinambungan dari satu kompetensi ke kompetensi lainnya, atau dari satu tahapan ketahapan berikutnya. Penelitian jenis korelasional digunakan dalam studi ini untuk mencari adatidaknya hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain. Desain penelitian asosiatifkausal digunakan untuk mengetahui hubungan kemampuan literasi visual siswa SMK denganhasil penciptaan karya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatankuantitatif yaitu penelitian yang menekankan analisisnya berdasarkan data-data numerical(angka) yang diolah dengan metode statistika. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah:“Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kemampuan literasi visual siswa SMKdengan hasil penciptaan karya untuk kompetensi perekaman gambar televisi nondrama dengan menggunakan single camera”. Berdasarkan penghitungan data, diperoleh persamaan regresiY= 68,09β + 0,478× yang memiliki makna bahwa pada setiap kenaikan kemampuan literasivisual siswa sebanyak 1 poin maka akan ada kenaikan hasil penciptaan karya sebesar 0,478poin. Perolehan ini diperkuat dengan hasil uji determinasi sebesar 50,4% yang menunjukkankemampuan literasi visual siswa memberikan pengaruh terhadap hasil penciptaan karya. 

Page 1 of 14 | Total Record : 133