Kesenian Benjang Gelut di Ujungberung, Bandung Timur, menghadapi tantangan serius akibat arus modernisasi yang mengedepankan kepraktisan, termasuk wacana penggantian musik pengiring langsung (waditra) dengan rekaman audio digital. Fenomena ini berpotensi mengikis identitas budaya dan nilai filosofis asli yang melekat pada tradisi tersebut. Beranjak dari keprihatinan sosiologis tersebut, langkah nyata diambil untuk merangkul, mengedukasi, serta memberdayakan tokoh masyarakat, pelatih, dan atlet muda dalam merumuskan strategi ketahanan budaya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam bersama sesepuh dan pelatih nasional Benjang Gelut, serta observasi lapangan di Cinunuk. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa meskipun transformasi Benjang Gelut menjadi cabang olahraga prestasi di bawah KORMI memberikan banyak keuntungan bagi generasi muda seperti jalur beasiswa dan prestasi, kehadiran waditra secara langsung mutlak dipertahankan. Instrumen musik ini bukan sekadar pelengkap panggung, melainkan sistem tanda yang merepresentasikan harmoni yang setiap ketukan memiliki makna kosmologis. Melalui pendampingan, generasi muda menyadari pentingnya musik tradisional dan prosesi ngibing sebagai sarana ngaji diri serta penerapan filosofi "bersih hate, handap asor" agar tidak hanya fokus mengejar medali. Kesimpulannya, perpaduan antara prestasi olahraga modern dan pelestarian seni tradisional ini mampu memastikan Benjang Gelut tetap berkembang tanpa kehilangan jati diri aslinya.
Copyrights © 2026